IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

BI Rate 2025: Kilas Balik Penurunan Suku Bunga Acuan

Jakarta – Bank Indonesia (BI) secara agresif memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sepanjang tahun 2025, sebuah langkah besar dalam kebijakan moneter tahun tersebut.

Penurunan BI Rate dari 6,00 persen di akhir 2024 menjadi 4,75 persen pada September 2025 menjadi sorotan utama. Level ini kemudian dipertahankan hingga akhir tahun.

BI menurunkan suku bunga untuk menjaga inflasi, menstabilkan nilai tukar rupiah, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Namun, transmisi penurunan BI Rate ke suku bunga perbankan berjalan lambat, menjadi perhatian pelaku usaha dan perbankan. Likuiditas, struktur dana mahal, dan praktik “special rate” untuk deposan besar menjadi penyebabnya.

Rangkaian Pemangkasan Sepanjang 2025

IHSG Melesat 1,74% ke 6.340, Cek Daftar Saham Top Gainers LQ45

Pemangkasan pertama terjadi pada Januari 2025, menurunkan BI Rate menjadi 5,75 persen. Suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00 persen dan Lending Facility menjadi 6,50 persen.

BI menegaskan langkah ini konsisten dengan rendahnya perkiraan inflasi, terjaganya nilai tukar rupiah, dan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pemangkasan suku bunga sebagai momentum untuk memperkuat narasi pertumbuhan.

Setelahnya, BI sempat menahan suku bunga pada level 5,75 persen.

Pemangkasan kedua terjadi pada Mei 2025, menurunkan BI Rate menjadi 5,50 persen. Suku bunga Deposit Facility turun menjadi 4,75 persen dan Lending Facility menjadi 6,25 persen.

Harga Emas Melonjak 1,2% Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan The Fed

Narasi yang diangkat tetap sama: inflasi terkendali, rupiah stabil, dan dukungan moneter untuk pertumbuhan.

BI mencatat penurunan suku bunga pasar uang overnight (INDONIA) dan imbal hasil SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia).

Pemangkasan ketiga terjadi pada Juli 2025, menurunkan BI Rate menjadi 5,25 persen. Suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50 persen dan Lending Facility menjadi 6,00 persen.

BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 di kisaran 4,6 sampai 5,4 persen.

Pemangkasan keempat terjadi pada Agustus 2025, menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,00 persen. Suku bunga Deposit Facility turun menjadi 4,25 persen dan Lending Facility turun menjadi 5,75 persen.

Saham BBCA Terus Menguat, Masihkah Menarik bagi Investor Ritel?

Sejumlah bank menilai pemangkasan BI Rate membuka ruang penyesuaian bertahap suku bunga kredit.

Puncak rangkaian pemangkasan terjadi pada September 2025. BI menurunkan BI Rate menjadi 4,75 persen.

Salah satu pertimbangan adalah ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, memberikan ruang kebijakan domestik.

Setelah September: Stabilitas Jadi Fokus

Setelah mencapai 4,75 persen, BI mempertahankan suku bunga acuan di level itu hingga akhir tahun.

Perry Warjiyo menyebut level ini terendah sejak tahun 2022.

Pada November 2025, BI fokus pada stabilisasi nilai tukar rupiah dan menarik aliran portofolio asing di tengah ketidakpastian global.

Transmisi Kebijakan yang Lambat

Isu utama sepanjang paruh kedua 2025 adalah transmisi kebijakan ke suku bunga perbankan, terutama bunga kredit.

BI membandingkan penurunan BI Rate dengan pergerakan bunga deposito dan kredit.

Suku bunga deposito 1 bulan hanya turun 56 bps, sementara suku bunga kredit turun lebih lambat.

BI menyoroti pemberian “special rate” kepada deposan besar sebagai salah satu faktor penghambat.

Respons Pelaku Usaha

Kalangan pengusaha melihat penurunan BI Rate sebagai sinyal dukungan kebijakan untuk menjaga permintaan domestik.

Apindo menilai pemangkasan suku bunga dapat mempertahankan geliat ekonomi.

OJK menilai masih terdapat ruang penurunan suku bunga kredit lebih lanjut, bergantung pada struktur biaya dana tiap bank.

Ke Depan: Kehati-hatian dan Stabilisasi

Menjelang akhir tahun, BI bergeser pada kehati-hatian, fokus pada stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global.

BI tetap mencermati ruang penurunan suku bunga jika inflasi terkendali dan stabilitas mendukung.

Komentar