IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Aturan BEI Baru, BUMI-BNBR Terancam Kembali ke Gocap?

Batas bawah saham jadi Rp 1, saham grup Bakrie BUMI-BNBR berpotensi balik gocap?

Jakarta – Menjelang berlakunya aturan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan batas bawah harga saham menjadi Rp 1 per saham pada 28 September 2026, saham-saham Grup Bakrie kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Kebijakan ini membuka ruang perdagangan yang lebih lebar bagi emiten yang selama ini berada di level gocap atau Rp50.

Bagi kelompok usaha Bakrie, perubahan itu terasa relevan. Sejumlah sahamnya sempat lama bertahan di level tersebut, sementara yang lain sudah mulai menjauh berkat perbaikan kinerja dan perubahan sentimen investor. Di saat bersamaan, beberapa emiten Bakrie juga masih disuspensi bursa.

PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) saat ini disuspensi di harga Rp 38, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) di Rp 32, dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) di level gocap.

Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai penurunan batas minimum harga saham dari Rp 50 ke Rp 1 tidak tepat dibaca sebagai sinyal negatif khusus bagi Grup Bakrie. Menurut dia, aturan tersebut berlaku untuk seluruh saham di BEI.

Ia menambahkan, pasar tetap akan bergerak berdasarkan mekanisme permintaan dan penawaran, ditambah kondisi fundamental masing-masing emiten. Karena itu, perubahan aturan tidak otomatis membuat saham yang saat ini berada di Rp 100, Rp 200, atau Rp 1.000 akan anjlok ke Rp 50.

KAI targetkan inbreng Inka efektif mulai Januari 2027

“Dengan kata lain, aturan ini hanya membuka ruang harga yang sebelumnya tidak tersedia di pasar reguler,” kata Thoriq kepada Katadata.co.id, Selasa (22/9).

Thoriq menyebut risiko kembali ke Rp 50 memang ada, tetapi terutama pada saham yang harganya masih dekat dengan area itu dan fundamentalnya belum kuat. Sebaliknya, saham Bakrie yang sudah jauh dari gocap dan mencatat pertumbuhan laba yang lebih solid dinilai memiliki risiko lebih rendah, selama kondisi dasarnya tidak berubah signifikan.

Jejak BUMI di Area Gocap

Rekam jejak saham Grup Bakrie menunjukkan level Rp 50 bukan sekadar angka psikologis. PT Bumi Resources Tbk (BUMI), salah satu emiten paling dikenal dalam kelompok usaha itu, pernah lama berkutat di area tersebut.

BUMI bertahan di Rp 50 sepanjang Oktober 2015 hingga Juni 2016. Setelah itu, saham perusahaan tambang batu bara tersebut mulai bergerak naik dan pada Oktober 2016 sudah berada di Rp123, melonjak 146% dari posisi Juni sebelumnya.

BI Tahan Bunga 5,75%, RDPT Masih Menarik Dicermati

Beberapa tahun kemudian, BUMI kembali masuk fase gocap. Saham ini berada di Rp 50 sejak November 2020. Pada awal 2021, harganya sempat menanjak ke Rp 130 pada 18 Januari, lalu terkoreksi ke Rp 56 pada awal Februari. Hingga 19 Maret 2021, BUMI masih berada di Rp 64.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa saham yang pernah terjebak di gocap tak selalu menetap di sana. BUMI kemudian kembali keluar dari level Rp 50 seiring membaiknya sentimen terhadap batu bara dan perbaikan fundamental. Pada April 2023, harganya tercatat sudah berada di Rp 121 setelah perseroan membukukan perbaikan kinerja keuangan pada 2022.

Artinya, pembukaan batas bawah harga menjadi Rp 1 tidak serta-merta membuat saham Bakrie yang sudah jauh di atas Rp 50 kembali turun ke level itu. Namun, pengalaman BUMI memperlihatkan bahwa jarak saham dari gocap bisa berubah cepat ketika fundamental, harga komoditas, struktur modal, dan sentimen pasar bergerak bersamaan.

Penentu Utama: Fundamental

Menurut Thoriq, setelah aturan baru BEI berlaku, pasar akan kembali menilai masing-masing emiten berdasarkan fundamentalnya. Kebijakan itu hanya mengubah mekanisme perdagangan, bukan kondisi bisnis perusahaan.

IHSG Menguat 1,56%, Simak Proyeksi Pergerakan Indeks Kamis 24 September

Ia menjelaskan, saham dengan laba, arus kas, produksi, dan prospek usaha yang lebih baik semestinya tidak terlalu terpengaruh oleh dibukanya ruang harga di bawah Rp 50. Sebaliknya, saham yang fundamentalnya lemah dan masih dekat ke level tersebut berpotensi menghadapi tekanan jual.

“Jadi, setelah 28 September, pasar kemungkinan justru akan lebih selektif dalam membedakan saham Bakrie yang memang ditopang perbaikan bisnis dengan saham yang kenaikannya lebih banyak ditopang sentimen dan likuiditas,” ujarnya.

Thoriq juga menyoroti bahwa peluang pergerakan tiap saham Bakrie berbeda. Saham yang berada di kisaran Rp50-Rp100 disebut lebih rentan tertekan ke Rp 50 dibanding saham yang sudah jauh lebih tinggi.

Sebagai gambaran, ia menyebut PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) di sekitar Rp 69 hanya perlu turun sekitar 27,5% untuk masuk ke Rp 50. PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) di sekitar Rp 87 perlu merosot sekitar 42,5%.

Sementara itu, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di sekitar Rp192 harus turun sekitar 74% untuk kembali ke Rp50. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) perlu melemah sekitar 86%, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sekitar 93%, dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) lebih dari 96%.

“Untuk saham yang harganya sudah jauh di atas Rp 50 dan memiliki dukungan fundamental yang lebih baik, skenario kembali ke gocap saat ini bukan merupakan skenario dasar,” kata Thoriq.

Bagi BUMI dan BNBR, pasar kini bukan semata bertanya apakah keduanya bisa kembali ke gocap setelah batas bawah Rp 1 berlaku. Yang lebih penting adalah apakah kinerja bisnis dan kondisi pasar bisa menjaga jarak harga saham dari level itu.

BUMI masih memiliki ruang yang cukup lebar dari Rp 50. Secara historis, saham ini memang pernah lama berada di level tersebut, tetapi berhasil keluar ketika sentimen komoditas dan kinerja perusahaan membaik.

BNBR berbeda. Jaraknya ke Rp 50 lebih dekat, dan saham ini baru saja menyelesaikan rights issue dalam jumlah besar pada harga pelaksanaan Rp 53. Kondisi itu membuat pasar akan mencermati perkembangan kinerja perusahaan setelah aksi korporasi tersebut.

Fundamental dan Komoditas Jadi Arah

Thoriq menegaskan, penguatan fundamental menjadi faktor utama yang menopang harga saham-saham Bakrie. Pasar, katanya, cenderung mempertahankan valuasi emiten yang konsisten mencatat pertumbuhan laba, menaikkan produksi, menjaga arus kas, memperbaiki struktur utang, dan menjalankan ekspansi yang benar-benar menambah pendapatan.

Untuk BUMI, dukungan datang dari kenaikan produksi dan penjualan batu bara, serta pertumbuhan laba. ENRG masih ditopang bisnis minyak dan gas yang berkembang, termasuk pendapatan dari kontrak gas. DEWA juga mencatat perbaikan laba yang cukup signifikan, meski pertumbuhan pendapatannya lebih moderat.

Selain kinerja dasar perusahaan, harga komoditas turut memengaruhi pergerakan saham. BUMI dan DEWA sensitif terhadap aktivitas pertambangan dan harga batu bara, sedangkan ENRG sangat bergantung pada pasar minyak dan gas.

“Untuk BRMS, harga emas serta keberhasilan peningkatan kapasitas produksi menjadi faktor yang cukup menentukan,” ujar Thoriq.

Sebaliknya, tekanan bisa datang ketika fundamental melemah bersamaan dengan bertambahnya pasokan saham di pasar. Sejumlah sentimen seperti penurunan laba, produksi yang tak mencapai target, penundaan proyek, kenaikan utang, atau arus kas yang memburuk dapat mendorong penurunan valuasi emiten.

Ia juga menilai aksi korporasi yang membuat jumlah saham beredar bertambah perlu diwaspadai. Jika jumlah saham naik tajam sementara laba tidak tumbuh seimbang, tekanan jual bisa meningkat.

BNBR menjadi salah satu saham yang perlu dicermati. Emiten ini baru menyelesaikan rights issue besar dengan harga pelaksanaan Rp 53. Aksi tersebut memperkuat pendanaan perusahaan, tetapi sekaligus menambah jumlah saham beredar.

“Karena itu, pasar akan menunggu apakah dana hasil rights issue mampu mendorong pertumbuhan laba dan arus kas yang cukup untuk mengimbangi potensi tambahan pasokan saham,” ucap Thoriq.

Di antara saham-saham Grup Bakrie, ia menilai ENRG, BUMI, BRMS, dan DEWA punya fundamental yang relatif lebih kuat.

ENRG ditopang pertumbuhan bisnis minyak dan gas serta pendapatan yang relatif stabil. BUMI didukung kenaikan produksi, penjualan, dan laba batu bara. BRMS dinilai memiliki basis fundamental yang kuat karena sudah memiliki operasi emas yang menghasilkan laba, dengan ruang pertumbuhan lewat peningkatan produksi dan ekspansi kapasitas. Meski laba semester I 2026 turun secara tahunan, Thoriq menilai pelemahan itu lebih dipicu gangguan produksi sementara, bukan kelemahan struktural.

Adapun DEWA mencatat perbaikan profitabilitas, meski kinerjanya masih bergantung pada volume kontrak pertambangan dan kemampuan menjaga efisiensi biaya.

“ENRG, BUMI, BRMS, dan DEWA relatif memiliki bantalan fundamental yang lebih baik untuk menghadapi tekanan jual, dibandingkan saham Grup Bakrie yang masih mencatatkan kerugian atau belum menunjukkan perbaikan operasional yang konsisten,” kata dia.

Pada akhirnya, turunnya batas bawah harga menjadi Rp 1 tidak otomatis menyeret saham Bakrie kembali ke gocap. Namun, untuk saham yang masih dekat Rp50, aturan baru ini menghapus batas teknis yang selama ini menahan pergerakan harga.

Pengalaman BUMI menunjukkan bahwa gocap bisa menjadi fase panjang, tetapi juga bisa menjadi titik balik ketika fundamental dan sentimen pasar berbalik arah. Setelah 28 September, pasar akan memiliki rentang harga yang lebih luas. Arah saham-saham Bakrie selanjutnya akan ditentukan oleh kinerja perusahaan, pasokan saham, harga komoditas, dan kekuatan permintaan investor.

Komentar