JAKARTA – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) secara beriringan mengumumkan rencana aksi korporasi berupa Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement. Langkah strategis ini ditempuh perusahaan untuk memperkuat struktur permodalan, memperbaiki neraca keuangan, hingga mendanai ekspansi bisnis pada semester kedua tahun 2026.
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) menjadi salah satu emiten yang mencuri perhatian pasar. Perseroan berencana melaksanakan PMTHMETD tahap IV dengan menerbitkan 72,47 juta saham baru bernilai nominal Rp100 per lembar. Dengan harga pelaksanaan Rp6.875 per saham, aksi ini akan meningkatkan jumlah saham beredar perseroan dari 18,11 miliar menjadi 18,18 miliar lembar.
Direksi PANI menyatakan seluruh saham baru tersebut akan diserap oleh PT Victoria Jaya Abadi dan Providentia Wealth Management Ltd. Dana hasil aksi korporasi ini diprioritaskan untuk memperkuat struktur permodalan serta menunjang kelangsungan kegiatan usaha entitas anak, yakni PT Panorama Eka Tunggal dan PT Karunia Utama Selaras.
Di sisi lain, PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG) menargetkan perolehan dana sebesar Rp745,53 miliar melalui penerbitan 7,45 miliar saham baru. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat posisi keuangan perusahaan guna mendukung berbagai rencana pengembangan usaha di sektor pariwisata dan properti. Pasca aksi ini, jumlah saham KPIG akan meningkat menjadi 107,31 miliar saham dari sebelumnya 99,86 miliar saham.
Sementara itu, PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) menempuh jalur private placement tahap VI sebagai bagian dari pemenuhan Perjanjian Perdamaian melalui homologasi. Perseroan akan menerbitkan 178,68 juta saham baru dengan nilai nominal Rp50 per lembar yang ditujukan khusus untuk konversi utang para kreditur.
Adapun PT Wira Global Solusi Tbk (WGSH) berencana merilis sebanyak-banyaknya 208,5 juta saham baru dengan nilai nominal Rp20 per saham. Dana yang dihimpun dari aksi ini akan digunakan untuk memperkuat modal kerja guna mendukung kegiatan operasional dan pengembangan usaha. Harga pelaksanaan bagi WGSH akan ditetapkan minimal 90 persen dari rata-rata harga penutupan selama 25 hari bursa terakhir.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai PANI sebagai emiten dengan rencana paling kredibel karena adanya kepastian standby buyer dari pihak non-afiliasi. Hal senada disampaikan analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, yang menyebut PANI memiliki peluang penyerapan saham yang paling tinggi dibandingkan emiten lainnya.
Menurut Arinda, WSBP lebih berfokus pada perbaikan neraca melalui konversi utang, sementara WGSH masih menghadapi tantangan karena belum mengumumkan investor strategis. Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengingatkan investor untuk mencermati risiko dilusi pada aksi korporasi KPIG mengingat jumlah saham yang diterbitkan cukup besar.
Secara fundamental, para analis melihat prospek positif bagi emiten-emiten tersebut. PANI didukung oleh proyek infrastruktur Tol KATARAJA dan bisnis properti premium, sementara KPIG terbantu oleh pemulihan sektor pariwisata. Adapun WSBP dinilai akan mendapatkan keuntungan dari percepatan proyek infrastruktur pemerintah pada semester II 2026. Meski demikian, risiko makroekonomi seperti tekanan suku bunga dan perlambatan ekonomi tetap menjadi catatan yang perlu diwaspadai oleh para investor.

