Jakarta – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menunjukkan performa lesu di awal pekan ini, Senin (1/9/2025), dengan penurunan nilai signifikan. Kendati demikian, para analis pasar menilai saham BBRI tetap menarik dan berpotensi akumulatif bagi investor jangka menengah dan panjang.
Pada pukul 14.38 WIB, saham BBRI diperdagangkan lebih rendah 2,22 persen. Harga saham BBRI terkoreksi 90 poin, mencapai level 3.960 per saham, dari posisi pembukaan di level 4.050 per saham.
Penurunan ini, menurut salah seorang senior analis pasar, tidak mencerminkan fundamental perusahaan. Saham BBRI, ujarnya, memiliki *days payable outstanding* (DPO) yang tinggi. Indikator ini menandakan bahwa BRI tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban utangnya.
“Ini berarti *balance sheet* BBRI sehat dan memberikan fleksibilitas dalam membayar kewajiban utangnya,” jelas analis tersebut. Kondisi keuangan yang solid ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.
Secara teknikal, saham BBRI pun dinilai masih cukup menarik dan mampu meningkatkan kepercayaan investor. Dari sisi tren DPO, angkanya bergerak dari sekitar 60 persen pada tahun 2020, lalu di bawah 80 persen dari tahun 2022 hingga saat ini.
Proyeksi tiga hingga empat tahun ke depan, kisaran DPO dapat mencapai 80 hingga 90 persen. Jika capaian ini terwujud, maka kemampuan BRI dalam memberikan keringanan fasilitas utangnya patut diapresiasi.
Berdasarkan analisis tersebut, saham BBRI direkomendasikan untuk *accumulative buy* atau akumulasi beli. Posisi saham BBRI dipandang masih murah dengan dividen yang tetap menarik bagi pemegang saham.
Target harga saham BBRI diproyeksikan mulai dari 4.220 hingga 4.730. Sementara itu, level *support* yang perlu diperhatikan investor berada di 3.590 dan 3.480.

