IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Alasan Ekonom Prediksi BI Pertahankan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

Jakarta – Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026. Prediksi ini didasari oleh tekanan eksternal yang masih kuat dan potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi global.

Sejumlah ekonom menilai, ruang untuk menurunkan suku bunga semakin terbatas.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, bahkan menyatakan ekspektasi inflasi yang tinggi membuat ruang penurunan suku bunga menjadi tertutup.

Nilai tukar rupiah juga diperkirakan masih akan mengalami tekanan dalam jangka pendek, dengan potensi bergerak di kisaran Rp 17.000 per dolar AS.

Department Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, menambahkan bahwa gejolak geopolitik yang berkepanjangan semakin mempersempit peluang penurunan BI Rate.

21 Orangutan di Kalteng Alami Gangguan Pernapasan Akibat Karhutla

Meskipun sentimen terhadap rupiah mulai membaik, pembayaran imbal hasil aset domestik kepada investor asing pada kuartal kedua masih menjadi faktor tekanan.

Namun, Faisal melihat potensi penguatan rupiah pada semester kedua, mengingat saat ini nilai tukar berada pada level yang relatif *undervalued*.

Penguatan rupiah hingga di bawah Rp 17.000 per dolar AS masih terbuka, asalkan pertumbuhan ekonomi tetap kuat, inflasi terkendali, dan keberlanjutan fiskal terjamin, terutama melalui peningkatan penerimaan negara.

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, menyoroti penurunan inflasi umum menjadi 3,48 persen (yoy) pada Maret 2026.

Namun, penurunan ini diikuti oleh meningkatnya ketidakpastian global, terutama eskalasi konflik AS-Iran, yang berpotensi mendorong inflasi impor melalui kenaikan harga energi dan memicu volatilitas pasar keuangan.

DPLK Bank BJB Tingkatkan Literasi Perencanaan Dana Pensiun Masyarakat

Riefky juga mengingatkan bahwa kebijakan bank sentral AS (The Federal Reserve) akan turut memengaruhi kebijakan BI.

Kombinasi tekanan inflasi dan pelemahan pertumbuhan meningkatkan risiko stagflasi, sehingga mempersempit ruang kebijakan The Fed.

Pasar keuangan Indonesia mencatat arus keluar modal bersih sekitar US$ 1,47 miliar pada pertengahan Maret hingga pertengahan April 2026.

Akibatnya, nilai tukar rupiah mengalami depresiasi moderat sebesar 0,88 persen (mtm), dari Rp 16.975 menjadi Rp 17.125 per dolar AS.

Bank Indonesia terus melakukan intervensi, yang tercermin dari penurunan cadangan devisa sekitar US$ 3,7 miliar pada Maret 2026.

Daftar Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi 9 September 2026

Riefky menilai, pelonggaran moneter yang terlalu dini berisiko memicu arus keluar modal dan pelemahan rupiah di tengah inflasi yang masih tinggi.

Sebaliknya, sikap hati-hati dapat memperketat kondisi keuangan dan menekan aktivitas ekonomi domestik.

Oleh karena itu, BI diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate pada level 4,75 persen, sambil memprioritaskan stabilitas nilai tukar dan ketahanan eksternal. Bank sentral juga berpotensi memperketat kebijakan apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

04

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

05

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

Program B50 Resmi Meluncur, Ini Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten CPO

08

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

Berita Terbaru