IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Bank Indonesia Optimistis Rupiah Terus Menguat Secara Bertahap.

Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyatakan akan terus melakukan intervensi pasar secara “bold” untuk menjamin kestabilan nilai tukar rupiah. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, optimistis kebijakan moneter ini mampu mendorong penguatan mata uang Indonesia secara bertahap, meskipun dipengaruhi oleh faktor domestik dan global seperti risiko penutupan pemerintahan Amerika Serikat.

Denny menjelaskan, bank sentral akan selalu hadir di pasar dalam dan luar negeri guna memberikan jaminan kepada pelaku pasar. “BI akan terus melakukan intervensi secara *bold*, baik di pasar domestik maupun pasar *offshore* untuk memastikan pergerakan rupiah tetap terkendali. Kami optimistis, seiring berjalannya waktu, rupiah akan menguat secara perlahan,” ucapnya seusai rapat di gedung DPR pada Rabu, 1 Oktober 2025.

Menurut Denny, pergerakan kurs dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satu faktor eksternal yang signifikan adalah potensi penutupan pemerintahan Amerika Serikat atau *government shutdown*. “Saya pikir tak hanya rupiah, semua mata uang juga akan terkena dampak terkait dengan perkembangan global, khususnya di AS,” ujarnya.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 1 Oktober 2025, rupiah terpantau menguat 60 poin menjadi 16.635 per dolar AS. Penguatan ini terjadi seiring dengan pelemahan dolar Amerika. Pengamat Forex, Ibrahim Assuabi, menyoroti *government shutdown* sebagai salah satu faktor eksternal yang turut memengaruhi pergerakan kurs.

Pemerintahan federal AS, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, resmi mengalami *shutdown* pada Selasa tengah malam atau Rabu dini hari waktu setempat. Sebagian besar operasi dan layanan pemerintah federal terpaksa dihentikan sementara waktu karena Kongres atau parlemen gagal menyepakati undang-undang pendanaan (anggaran) untuk tahun fiskal mendatang.

Lonjakan Data Center Dorong Potensi Saham Energi Terbarukan

“Penutupan pemerintah AS diperkirakan akan menunda rilis data pasar tenaga kerja yang sangat dinantikan minggu ini. Penutupan yang berkepanjangan juga berpotensi mengganggu rilis data AS mendatang,” papar Ibrahim.

Data penggajian non-pertanian (non-farm payrolls) untuk bulan September, yang sedianya dirilis pada hari Jumat, kemungkinan tertunda akibat gangguan di lembaga-lembaga federal. Data tersebut sangat penting karena diperkirakan akan memberikan sinyal lebih definitif mengenai pendinginan pasar tenaga kerja, yang merupakan motivator utama bagi Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga pada September.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

08

HUT ke-81 RI, Paspampres kerahkan 1.147 personel dan alusista amankan VVIP

Berita Terbaru