Jakarta, Gonesia.com – Saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) justru mencatatkan tren penguatan di pasar modal meskipun investor institusi besar, UBS AG London Branch, melakukan aksi divestasi saham perusahaan tersebut.
Berdasarkan data perdagangan Kamis, 10 September 2026, harga saham emiten unggas ini ditutup di level Rp 3.280 per lembar.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 20 poin atau 0,61 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Kenaikan harga ini terjadi tepat setelah UBS AG London Branch melaporkan pengurangan kepemilikan sahamnya secara signifikan.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dikutip Kontan, UBS melakukan transaksi penjualan saham CPIN pada 7 September 2026.
Institusi keuangan global tersebut melepas sebanyak 3.541.747 lembar saham CPIN kepada pasar.
Transaksi tersebut dieksekusi dengan harga rata-rata Rp 3.220 per saham.
Secara akumulatif, nilai penjualan saham tersebut mencapai angka sekitar Rp 11,4 miliar.
Manajemen CPIN memberikan klarifikasi bahwa langkah divestasi tersebut bukan didasari oleh sentimen negatif terhadap fundamental perusahaan.
Pihak manajemen menjelaskan, “transaksi tersebut dilakukan UBS untuk kebutuhan lindung nilai atau hedging atas aktivitas perdagangan derivatif klien.”
Status kepemilikan saham UBS di CPIN sendiri tercatat sebagai kepemilikan langsung.
Pasca aksi korporasi tersebut, jumlah kepemilikan saham UBS di CPIN kini menyusut menjadi 982.737.000 lembar.
Angka kepemilikan tersebut setara dengan 5,99 persen dari total hak suara perusahaan.
Sebelum transaksi dilakukan, UBS tercatat memegang 986.278.747 lembar saham atau setara dengan 6,01 persen hak suara.
Artinya, UBS telah mengurangi sekitar 0,02 poin persentase dari total kepemilikannya di emiten tersebut.
Posisi UBS pun dipastikan tetap berada di atas ambang batas kepemilikan 5 persen.
Ketangguhan harga saham CPIN di pasar tampak sejalan dengan performa keuangan perusahaan yang solid sepanjang semester I-2026.
Penjualan neto perseroan tercatat mencapai Rp 39,42 triliun pada paruh pertama tahun ini.
Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 19,23 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 33,06 triliun.
Lonjakan pendapatan ini memberikan dampak positif langsung terhadap profitabilitas perusahaan.
Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak tajam hingga mencapai sekitar Rp 3,7 triliun.
Pencapaian laba tersebut meningkat 95,13 persen secara tahunan dari Rp 1,9 triliun pada semester I-2025.
Selain performa semesteran, saham CPIN juga menunjukkan daya tarik dalam jangka pendek.
Selama periode perdagangan 30 hari terakhir, harga saham CPIN tercatat mengalami kenaikan akumulatif sebesar 5,81 persen.
Data ini mengonfirmasi bahwa aksi jual oleh investor institusi tidak serta-merta menggoyahkan kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek bisnis CPIN.


