Jakarta, Gonesia.com – Industri kesehatan nasional tengah mengalami pergeseran paradigma yang signifikan pasca-pandemi Covid-19.
Kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin kini melonjak tajam dibandingkan periode sebelumnya.
Fenomena ini memicu munculnya peluang bisnis baru bagi penyedia layanan kesehatan untuk melakukan transformasi model operasional.
Bumame, yang sebelumnya dikenal sebagai penyedia tes Covid-19, kini secara strategis beralih menjadi mitra kesehatan preventif bagi masyarakat urban.
Langkah reposisi ini dilakukan untuk memastikan keberlanjutan bisnis setelah momentum kebutuhan tes virus korona mereda.
“Ketika kebutuhan tes covid mulai mereda seiring pemulihan pandemi, Bumame menghadapi pilihan strategis yang sama dengan banyak pemain kesehatan lainnya yakni ikut turun atau beralih ke segmen yang lebih berkelanjutan. Bumame memilih yang kedua,” ungkap manajemen perusahaan melalui keterangan tertulis yang dilansir Katadata, Sabtu (5/9).
Transformasi tersebut ditandai dengan peluncuran kampanye #BukanCovid di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram.
Identitas baru ini bertujuan mengukuhkan posisi perusahaan sebagai klinik pilihan pertama bagi masyarakat yang ingin memantau kondisi tubuh secara proaktif.
Model bisnis yang dijalankan kini berfokus pada layanan diagnostik dan preventif yang mencakup empat lini utama.
Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kesehatan atau medical check up (MCU) bagi segmen ritel maupun korporat, vaksinasi, vitamin drip, serta pemeriksaan lanjutan seperti NIPT.
Perusahaan juga mengoptimalkan layanan home care untuk memperluas jangkauan akses tanpa harus melakukan ekspansi fisik secara masif.
Strategi ini dinilai mampu menghasilkan pendapatan berulang atau recurring revenue yang stabil melalui pelanggan loyal.
Selain itu, model tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk melakukan up-sell dari layanan MCU dasar menuju paket pemeriksaan yang lebih komprehensif.
Saat ini, Bumame telah mengoperasikan empat klinik strategis yang tersebar di wilayah Jabodetabek, yakni TB Simatupang, Cideng, BSD, dan Puri Indah.
Ekspansi jaringan tersebut difokuskan pada kedalaman penetrasi di wilayah urban sebelum mempertimbangkan pengembangan ke kota-kota lain.
Manajemen menilai bahwa konsentrasi populasi di Jabodetabek menjadi target pasar paling potensial saat ini.
Meski demikian, langkah ekspansi tersebut menghadapi tantangan persaingan yang ketat dari pemain lama maupun platform digital kesehatan.
Pemain petahana seperti Prodia masih mendominasi pasar melalui jaringan laboratorium yang jauh lebih luas.
Di sisi lain, platform digital seperti Halodoc memiliki keunggulan dalam hal ekuitas merek di segmen konsumen berbasis teknologi.
Namun, perusahaan tetap optimistis dengan keunggulan berupa kombinasi fasilitas fisik yang nyata serta pendekatan digital yang modern.
Paket pemeriksaan yang ditawarkan pun dirancang menyesuaikan gaya hidup masyarakat urban, bukan sekadar daftar pemeriksaan standar.
Pendekatan ini diproyeksikan mampu memberikan kenyamanan dan personalisasi layanan bagi para pelanggan.
Seluruh informasi mengenai ketersediaan layanan kesehatan dapat diakses masyarakat melalui layanan pelanggan via aplikasi pesan instan WhatsApp.


