JAKARTA, Gonesia.com – Sektor hilirisasi komoditas berbasis hayati kini mulai dilirik sebagai alternatif strategis untuk menggeser ketergantungan ekonomi nasional pada industri ekstraktif yang berisiko merusak lingkungan.
Pemanfaatan tanaman nilam atau patchouli menjadi salah satu model ekonomi restoratif yang menjanjikan, di mana nilai tambah produk tetap dihasilkan tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem tanah.
Data mencatat sektor minyak atsiri Indonesia menunjukkan performa impresif dengan nilai ekspor mencapai US$348,7 juta atau setara Rp6 triliun pada tahun 2025.
Pencapaian tersebut mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 34,4 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Kontribusi minyak nilam mendominasi pasar dengan nilai ekspor mencapai US$173,4 juta atau hampir Rp3 triliun, meningkat 22,7 persen secara tahunan.
Sentra produksi utama tanaman nilam saat ini tersebar di empat pulau besar, yakni Sumatra, Sulawesi, Jawa, dan Maluku.
Provinsi Sulawesi Tenggara tercatat sebagai produsen nilam terbesar, diikuti oleh Sumatra Utara dan Sumatra Barat sebagai penyangga utama.
Implementasi hilirisasi nilam kini mulai diterapkan oleh pelaku industri kosmetik domestik seperti Paragon Corp melalui lini produk Earth Love Life.
Director of Corporate Affairs PT Paragon Technology and Innovation, Astri Wahyuni, menyatakan bahwa pihaknya fokus memanfaatkan kekayaan hayati lokal untuk menciptakan pengalaman konsumen yang unik.
“Jadi kami pakai bunga dari Bali, misalnya frangipani (kamboja), kemudian patchouli dari Sulawesi,” kata Astri dalam seminar nasional The New Economy of Nature pada Kamis (20/8).
Penerapan praktik budidaya regeneratif menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan pasokan bahan baku nilam tersebut.
Astri menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap lingkungan dibuktikan dengan sertifikasi For Life dari Ecocert untuk salah satu varian produk mereka.
“Budidaya (tanaman nilam) sudah regeneratif,” ujar dia.
Metode regeneratif yang diterapkan meliputi pengolahan sisa bahan baku penyulingan menjadi kompos untuk pupuk organik.
Selain itu, lahan nilam diistirahatkan secara berkala dengan sistem rotasi tanaman setiap empat kali panen untuk memulihkan unsur hara tanah.
Langkah ini diambil untuk menghindari dampak buruk monokultur yang sering kali memicu degradasi tanah dan penipisan nutrisi secara masif.
Perusahaan saat ini melibatkan sekitar 700 petani lokal untuk memastikan rantai pasok nilam tetap terjaga secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai model hilirisasi non-ekstraktif ini merupakan langkah maju bagi ekonomi nasional.
Dia menekankan bahwa industri pertambangan selama ini sering mengabaikan biaya eksternalitas lingkungan yang dampaknya sangat besar bagi masyarakat.
“Kalau ada hilirisasi tadi seperti Paragon, itu bagus,” ucap Bhima.
Kendati demikian, ia menyoroti bahwa sektor bioekonomi masih menghadapi tantangan besar terkait akses pembiayaan yang memadai.
“Uangnya ada, tapi lebih banyak ke sektor ekstraktif. Kalau dilihat, pembiayaannya gede-gede semua, tapi pembiayaan untuk sektor bioekonomi atau yang terkait dengan biodiversitas ini masih kecil,” lanjutnya.
CELIOS memproyeksikan bahwa ekonomi restoratif memiliki kapasitas untuk menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan sektor ekstraktif dalam jangka panjang.
Beberapa instrumen pendanaan seperti pajak karbon, pajak kekayaan, hingga dana pungutan ekspor kelapa sawit diusulkan menjadi motor penggerak sektor ini.
“Sumber pendanaan yang sangat beragam ini, memang kuncinya satu, kita butuh political will untuk melihat sektor terkait sosio-bioekonomi ini adalah sebuah jawaban. Bukan alternatif, tapi satu-satunya jalan yang harus kita lakukan bersama,” tutupnya.


