JAKARTA, Gonesia.com – PT Harum Energy Tbk (HRUM) kini telah bertransformasi secara signifikan menjadi entitas pertambangan nikel terintegrasi, meninggalkan citra lama sebagai emiten yang hanya bergantung pada sektor batubara.
Pergeseran fundamental ini terbukti lewat lonjakan kinerja keuangan perusahaan selama semester I-2026 yang didominasi oleh kontribusi dari segmen nikel sebesar 97 persen dari total pendapatan.
Manajemen HRUM dalam laporan resminya menyebutkan bahwa performa impresif ini dipicu oleh peningkatan volume penjualan nikel yang disertai harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) yang solid.
“Nikel terus mengimbangi penurunan kontribusi dari batubara sekaligus memperkuat transformasi perusahaan,” ungkap Manajemen HRUM dikutip Selasa (25/8).
Perusahaan mencatat pendapatan sebesar US$ 1,08 miliar pada semester pertama tahun ini, yang merepresentasikan pertumbuhan sebesar 67 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Sejalan dengan peningkatan pendapatan tersebut, laba bersih perusahaan juga melonjak drastis sebesar 237 persen yoy menjadi US$ 129,3 juta.
Pencapaian ini juga didukung oleh keberhasilan peningkatan kapasitas produksi anak usaha, yakni PT Blue Sparking Energy (BSE).
Volume penjualan nikel HRUM tercatat tumbuh 69 persen yoy menjadi 56.371 ton, sementara ASP produk nikel meningkat 32 persen menjadi US$ 15.958 per ton.
Di sisi lain, sektor batubara menghadapi tantangan berat akibat keterlambatan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pada awal tahun.
Volume penjualan batubara HRUM anjlok 92 persen yoy menjadi 0,8 juta ton selama periode enam bulan pertama tahun 2026.
Meski demikian, perusahaan tetap mematok target produksi batubara sebesar 3 juta ton yang diharapkan dapat tercapai di sepanjang semester II-2026.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai posisi HRUM saat ini semakin kuat karena keberhasilan mereka dalam melakukan hilirisasi produk.
Menurutnya, integrasi rantai nilai nikel akan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perusahaan dibandingkan hanya menjual bahan mentah.
“Sentimen positif lainnya adalah semakin terintegrasinya rantai nilai nikel HRUM sehingga perusahaan dapat memperoleh nilai tambah lebih besar dari aktivitas hilirisasi,” ujar dia, Senin (24/8/2026).
Dia optimistis prospek kinerja HRUM akan tetap positif hingga penghujung tahun 2026 dengan catatan segmen nikel terus menjaga margin operasional.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa perusahaan harus tetap waspada terhadap berbagai risiko eksternal yang membayangi industri komoditas.
Risiko tersebut mencakup volatilitas harga nikel dan batubara, potensi kelebihan pasokan di pasar global, serta fluktuasi biaya produksi.
Selain itu, tantangan operasional terkait proyek smelter dan ketatnya regulasi pemerintah di sektor pertambangan menjadi faktor yang perlu dimitigasi secara ketat.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, efisiensi operasional dan disiplin belanja modal menjadi kunci utama bagi manajemen HRUM ke depan.
Perusahaan dituntut mampu menyeimbangkan ambisi di sektor nikel dengan pemeliharaan arus kas yang stabil dari bisnis batubara.
Melihat potensi tersebut, ia memberikan rekomendasi untuk menambah kepemilikan saham atau add saham HRUM dengan target harga di level Rp 970 per saham.


