SINGAPURA, Gonesia.com — Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menekan pasar energi global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengajukan tuntutan baru terkait kompensasi terhadap Iran.
Langkah politik ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent yang melonjak hingga 5% menjadi US$ 87,81 per barel pada Selasa (11/8) pukul 08.40 waktu Singapura.
Sementara itu, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terpantau stabil berada di posisi US$ 82,19 per barel.
Tuntutan Trump yang meminta ganti rugi atas seluruh korban jiwa dalam konflik tersebut menciptakan kebuntuan baru dalam proses negosiasi diplomatik.
Ia menyatakan akan memasukkan poin tuntutan kompensasi tersebut secara tegas ke dalam setiap meja perundingan di masa depan.
Sikap keras Washington ini secara langsung memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai yang selama ini diharapkan mampu membuka kembali Selat Hormuz.
Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia sebelum pecahnya perang.
Presiden AS tersebut menegaskan bahwa kompensasi bagi Iran tidak pernah menjadi agenda utama dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya antara kedua negara.
Pernyataan ini muncul sebagai kontra terhadap nota kesepahaman (MoU) 14 poin yang disepakati kedua belah pihak pada Juni lalu.
Dokumen tersebut sempat memuat rencana bagi AS dan mitra regional untuk menghimpun dana sebesar US$ 300 miliar guna rehabilitasi Iran pascaperang.
Alih-alih menempuh opsi militer, Trump saat ini memberi sinyal kuat untuk terus mengandalkan tekanan ekonomi guna melumpuhkan posisi tawar Teheran.
Di sisi lain, Iran melalui perantara Oman tetap bersikeras menuntut AS mengakhiri blokade serta membayar ganti rugi atas segala kerusakan yang ditimbulkan akibat konflik.
Ketidakpastian ini diperparah dengan situasi pasokan global yang terus menipis akibat akumulasi dampak perang Rusia-Ukraina serta gangguan operasional kilang minyak.
Harga diesel di pasar Eropa dan Amerika Serikat dilaporkan melonjak tajam pada Senin (10/8) akibat kekhawatiran terhadap pengetatan pasokan.
“Mengingat selat tersebut masih ditutup, persediaan global berkurang secara drastis dan arus pengiriman masih jauh dari tingkat normal, kita dapat melihat aksi short covering secara agresif,” kata Kepala Strategi Komoditas Global di TD Securities, Bart Melek dikutip dari Bloomberg, Selasa (11/8).
Ia menambahkan bahwa pasar kini berada dalam posisi rentan terhadap volatilitas harga yang ekstrem.
Selain kebuntuan di Selat Hormuz, ancaman keamanan juga meluas hingga ke wilayah Laut Merah.
Kelompok militan Houthi yang terafiliasi dengan Iran terus melancarkan ancaman terhadap infrastruktur energi dan pelayaran internasional.
Dampaknya, raksasa energi Saudi Aramco terpaksa menunda kembali operasional kilang Jazan hingga akhir Agustus setelah serangan yang diklaim oleh kelompok pemberontak tersebut.


