Jakarta, Gonesia.com – Lonjakan laba bersih emiten kertas nasional sepanjang semester I-2026 menjadi sorotan pasar di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar 166,83% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 262,49 juta.
Kinerja positif serupa juga dibukukan oleh PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang mencatatkan kenaikan laba bersih mencapai 127,45% YoY menjadi US$ 372,33 juta.
Peningkatan profitabilitas tersebut didorong oleh pertumbuhan penjualan yang stabil, yakni sebesar 7,79% untuk TKIM dan 8,74% bagi INKP.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai kualitas pertumbuhan kinerja emiten kertas pada paruh pertama tahun ini tergolong tinggi jika dilihat dari ekspansi margin.
“Kalau dilihat, pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi dibanding pendapatan ini mencerminkan adanya margin expansion yang cukup signifikan, bukan sekadar pertumbuhan volume,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).
Ia menambahkan bahwa efisiensi biaya energi, perbaikan harga pulp global, serta pergeseran bauran produk menjadi kunci utama penebalan margin perusahaan.
“Ada perbaikan harga pulp, efisiensi energi, dan juga pergeseran ke produk dengan value lebih tinggi. Ini yang mendorong margin jadi lebih tebal,” jelasnya.
Menurut dia, pelemahan rupiah memberikan keuntungan tersendiri bagi emiten berbasis ekspor karena pendapatan mayoritas dalam mata uang dolar AS.
“Revenue mereka mayoritas dalam dolar AS, sementara sebagian biaya dalam rupiah. Ini jadi natural hedge yang cukup menguntungkan,” lanjutnya.
Wafi memandang INKP memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan TKIM berkat skala bisnis yang lebih besar dan integrasi operasional yang menyeluruh.
“INKP ini lebih unggul dari sisi integrasi pulp-to-paper, jadi punya fleksibilitas produk dan efisiensi biaya yang lebih baik,” katanya.
Ia menetapkan rekomendasi beli untuk saham INKP dengan target harga sebesar Rp9.800 per lembar saham.
Berbeda sudut pandang, Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, mengingatkan investor agar lebih teliti membedakan laba operasional dan non-operasional.
“Memang secara umum kinerja membaik, tapi lonjakan laba tidak sepenuhnya dari operasional karena ada kontribusi besar dari keuntungan selisih kurs,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa keuntungan kurs tersebut bersifat fluktuatif sehingga investor perlu mencermati keberlanjutan margin di masa depan.
“Keuntungan selisih kurs ini cukup besar, jadi memang perlu dipisahkan mana yang operasional dan mana yang non-operasional,” tambahnya.
Meskipun terdapat catatan mengenai selisih kurs, ia tetap optimistis terhadap prospek industri kertas hingga akhir 2026.
“Segmen packaging masih akan jadi penopang utama, seiring pertumbuhan e-commerce dan perdagangan global,” pungkasnya.
Sukarno memberikan rekomendasi beli untuk INKP di level harga Rp11.600 dan TKIM di harga Rp3.200 per saham.


