Jakarta, Gonesia.com – Harga minyak mentah dunia kembali mengalami tekanan jual setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ultimatum perundingan terakhir kepada Iran terkait akses Selat Hormuz.
Harga minyak acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), terpantau merosot 0,4 persen ke level US$ 80,02 per barel pada Selasa (4/8) pagi pukul 06.40 waktu Singapura.
Kondisi serupa terjadi pada harga minyak Brent yang ditutup melemah di angka US$ 83,77 per barel pada perdagangan Senin sebelumnya.
Volatilitas harga komoditas energi ini dipicu oleh ketidakpastian geopolitik yang mendalam di kawasan Teluk Persia dan Laut Merah.
Ketegangan mencapai titik didih setelah runtuhnya gencatan senjata pada Juni lalu yang memicu pecahnya kembali pertempuran di wilayah strategis tersebut.
Trump dalam pernyataannya menekankan bahwa tawaran diplomasi ini merupakan upaya terakhir sebelum eskalasi militer yang lebih besar dilakukan.
Ia bahkan sempat membatalkan rencana serangan militer yang diklaim sebagai aksi ofensif terbesar sejak Perang Dunia II.
Fokus utama dari tawaran perundingan tersebut adalah pembukaan kembali akses Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal internasional.
“Ini adalah kesempatan terakhir bagi Iran untuk menandatangani dokumen yang baik. Saya ingin memberi mereka setiap kesempatan terakhir sebelum pemenggalan,” kata Trump seperti dikutip dari laporan Katadata, Selasa (4/8).
Di sisi lain, pemerintah Iran secara tegas membantah adanya negosiasi langsung dengan pihak Amerika Serikat.
Pemerintah Iran justru mengklaim tengah menjalin komunikasi intensif dengan Oman untuk mengelola lalu lintas kapal di jalur vital tersebut.
Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaee, menegaskan bahwa Washington harus menjadi pihak yang mengambil langkah awal untuk memperbaiki perilaku mereka.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian utama karena jalur ini merupakan urat nadi bagi seperlima pasokan migas dunia.
Saat ini, volume pengiriman komoditas energi melalui selat tersebut dilaporkan hampir terhenti total akibat ketegangan yang memuncak.
Associate Dean di Center for Global Affairs, New York University, Carolyn Kissane, menilai pasar minyak akan terus berada dalam kondisi tidak menentu.
Ia menyebut bahwa Iran tampak sengaja menjaga api ketegangan tanpa harus memicu perang terbuka secara langsung.
Kondisi ini diperparah dengan terganggunya rantai pasok di kawasan Laut Merah akibat ancaman kelompok Houthi terhadap pelayaran internasional.
Data pelacakan kapal menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi mengalami penurunan signifikan sebesar 460.000 barel per hari pada bulan lalu.
Total ekspor kerajaan tersebut kini tercatat hanya berada di angka 4,19 juta barel per hari.
Risiko gangguan pasokan global semakin meluas seiring dengan meningkatnya serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia.
Sepanjang Juli, tercatat sedikitnya 30 serangan yang menyasar kilang besar, kapal tanker, serta jaringan pipa utama di wilayah Rusia.
Angka tersebut menjadi rekor bulanan tertinggi kedua sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina dimulai pada tahun 2022 lalu.
Para pemilik kapal tanker kini mulai menerapkan protokol keamanan ekstra, termasuk berlayar tanpa sistem identifikasi di titik sempit Bab el-Mandeb.
Ketidakpastian ini membuat banyak operator kapal menjadi sangat berhati-hati dalam melakukan pemuatan minyak di terminal-terminal kritis.
Ketergantungan pasar global terhadap jalur pengiriman yang rentan konflik ini diprediksi akan terus menjaga harga minyak dalam spektrum fluktuatif.


