Jakarta, Gonesia.com – Bank Jakarta kini menggeser fokus layanannya dari sekadar lembaga keuangan konvensional menjadi penyedia ekosistem digital yang terintegrasi dengan aktivitas harian masyarakat.
Transformasi ini terlihat nyata di lapangan, seperti kemudahan akses tarik tunai melalui mobil ATM keliling yang tersedia di lokasi keramaian seperti Jakarta Kreatif Festival (JKF) di Istora Senayan.
“Terbantu sekali dengan adanya ATM di lokasi acara,” ujar Alia, seorang nasabah yang sempat kesulitan mencari uang tunai saat mengunjungi festival tersebut, kepada Katadata.co.id.
Langkah strategis perbankan ini merupakan bagian dari upaya menyeluruh perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan perilaku nasabah yang semakin mengandalkan transaksi non-tunai.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menegaskan bahwa orientasi perbankan saat ini telah bergeser dari sekadar produk menuju penyediaan kemudahan akses bagi pengguna.
“Orang itu sudah enggak melihat bank itu dari produknya, tapi dari seberapa mudah, murah, cepat, aman layanan atau bahkan ekosistem yang ditawarkan oleh bank itu sendiri,” kata dia di Jakarta pada 21 Juli 2026.
Perubahan identitas dari Bank DKI menjadi Bank Jakarta menjadi simbol komitmen perusahaan untuk bertransformasi menjadi bank modern yang relevan dengan kebutuhan warga kota global.
Salah satu realisasi nyata dari transformasi tersebut adalah integrasi dengan jaringan pembayaran global Visa sejak awal tahun 2026.
Integrasi ini terbukti meningkatkan loyalitas nasabah, sebagaimana dirasakan oleh Nina, nasabah berusia 28 tahun yang kini menjadikan Bank Jakarta sebagai kartu transaksi utama.
Ia merasa terbantu dengan efisiensi biaya transfer melalui BI Fast dan beragam promo menarik yang ditawarkan melalui aplikasi JakOne Mobile.
“Sekarang kalau transfer-transfer pun sudah tidak ragu lagi karena biayanya sudah sama dengan standar BI Fast,” ujarnya pada Kamis (30/7).
Inovasi juga merambah ke sektor pelayanan fisik melalui konsep Future Branch yang menggabungkan efisiensi digital dengan kenyamanan tatap muka di kantor cabang.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyambut positif langkah ini karena dianggap mendukung perluasan inklusi keuangan serta memperkuat ekosistem ekonomi daerah.
Selain itu, Bank Jakarta mulai menerapkan konsep Engagement Store di berbagai pameran, termasuk Jakarta Fair 2026, untuk mendekatkan layanan perbankan dengan kebutuhan transaksi langsung masyarakat.
Di sana, nasabah dapat melakukan berbagai aktivitas mulai dari pembukaan rekening daring hingga pembayaran pajak kendaraan bermotor melalui mesin EDC.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta, Arie Rinaldi, menyatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong inovasi layanan guna memperkuat keterlibatan dengan masyarakat.
“Ke depan, kami akan terus mendorong inovasi layanan serta memperluas kolaborasi untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Menyadari risiko yang muncul seiring digitalisasi, perusahaan kini memprioritaskan penguatan keamanan siber guna menjaga kepercayaan nasabah.
Agus menambahkan bahwa fokus ke depan adalah memastikan keamanan digital tetap menjadi fondasi utama di tengah meningkatnya ancaman siber pada sektor perbankan.
“Ke depan, penguatan terhadap keamanan siber dan berbagai aspek keamanan digital akan menjadi bagian dari langkah yang akan kami jalankan berikutnya,” tutupnya.


