IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Prospek Saham Tambang Logam Cerah hingga 2026, Simak Rekomendasi Analis

Jakarta, Gonesia.com – Sektor pertambangan logam diprediksi akan menjadi primadona investasi di pasar modal Indonesia dengan prospek cerah yang bertahan hingga akhir tahun 2026.

Optimisme ini didorong oleh kombinasi kuat antara pemulihan kapasitas produksi, keberlanjutan program hilirisasi mineral, serta tingginya permintaan logam untuk kebutuhan transisi energi global.

Harga komoditas emas yang stabil di level tinggi turut memberikan bantalan profitabilitas bagi emiten-emiten besar di sektor ini.

Meskipun tren makro terlihat positif, para pelaku pasar tetap diminta untuk mewaspadai berbagai risiko sistemik yang membayangi kinerja industri.

Analis menekankan pentingnya memantau fluktuasi harga komoditas global yang sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dunia.

Strategi Investasi Bitcoin dan Ether Saat Pasar Mengalami Koreksi Harga

Perubahan kebijakan pemerintah terkait hilirisasi dan regulasi pertambangan juga menjadi faktor krusial yang dapat memengaruhi operasional perusahaan.

Kenaikan biaya energi akibat ketegangan geopolitik menjadi variabel lain yang berpotensi menekan margin laba emiten di masa depan.

Salah satu fokus utama pasar tertuju pada PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan kinerja signifikan pada tahun 2026.

Analis KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, mengatakan, “Tahun 2026 menjadi titik balik penting bagi AMMN setelah transisi dari Batu Hijau Phase 7 ke Phase 8 selesai pada 2025.”

Ia menambahkan bahwa dengan selesainya pengupasan lapisan penutup berkadar rendah, perusahaan memasuki siklus penambangan yang jauh lebih produktif.

Komdigi Wajibkan Operator Seluler Lindungi Sisa Kuota Internet Konsumen

Menurutnya, Phase 8 memiliki cadangan sebesar 442 juta ton, atau sekitar 63% dari total cadangan AMMN.

Dia memperkirakan Phase 8 menghasilkan volume tambang sebesar 800 ribu dmt pada FY26, meningkat 79,1% YoY.

Saham AMMN kini diberikan rekomendasi beli dengan target harga mencapai Rp 6.500 per lembar.

Sementara itu, PT Timah (Persero) Tbk (TINS) mulai melirik diversifikasi bisnis melalui pengembangan logam tanah jarang atau Rare Earth Elements.

Equity Research Analyst PT Binaartha Sekuritas, Eka Rahmawati Rahman, menjelaskan bahwa perseroan telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan PT Perusahaan Mineral Nasional (PERMINAS) melalui Conditional Framework bertajuk Sovereign Strategic Mineral Cooperation Framework Pengolahan Slag Timah, Monasit & REE/LTJ Bangka.

Prospek Saham Hijau BEI: Mengintip Potensi HGII, KEEN, dan TOBA

Ia menjelaskan bahwa kerja sama tersebut berfokus pada pengolahan slag timah, monasit, serta logam tanah jarang di Bangka Belitung dan mulai berlaku efektif sejak 20 Mei 2026.

Saham TINS mendapatkan rekomendasi beli dengan target harga di angka Rp 4.230.

Di sisi lain, proyek pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa menjadi katalis utama bagi PT Vale Indonesia Tbk (INCO).

Analis UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, mengungkapkan, “Proyek pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) Pomalaa akan memanfaatkan bijih limonit dengan kandungan magnesium yang tinggi.”

Ia menilai karakteristik ini memungkinkan konsumsi sulfur sekitar 27% lebih rendah dibandingkan pabrik HPAL lain di Indonesia.

Menurutnya, mitra INCO, Huayou, berpotensi memprioritaskan pengembangan proyek HPAL Pomalaa dibandingkan proyek lainnya.

Ia juga mencatat adanya kemungkinan pelonggaran kebijakan pemerintah terkait Harga Patokan Mineral maupun Rencana Kerja dan Anggaran Biaya pertambangan nikel.

Saham INCO dipatok dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 9.500.

Terakhir, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) dinilai memiliki daya tarik lewat volume penjualan emas yang stabil.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memproyeksikan volume penjualan emas ANTM sepanjang 2026 dapat mencapai sekitar 40 ton.

Ia menuturkan bahwa harga emas global yang bertahan di atas level US$ 3.000 per ons troi akan terus menopang profitabilitas perseroan.

Ia melanjutkan bahwa volume penjualan bijih nikel diperkirakan meningkat seiring persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya sebesar 18,1 juta wet metric ton, lebih tinggi dibandingkan realisasi 16 juta wmt pada 2025.

Namun, ia memperingatkan bahwa potensi revisi rencana kerja pada pertengahan tahun dapat memicu volatilitas harga jual rata-rata bijih nikel dalam jangka pendek.

Oleh sebab itu, saham ANTM saat ini diberikan rekomendasi beli saat harga melemah atau buy on weakness dengan target harga Rp 3.000.

Komentar

Berita Populer

01

Polres Tanah Datar Tangkap Mahasiswa Diduga Edarkan Sabu

02

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

03

Orang Tua Siswa Kejar Laporan Polisi, Mediasi Kasus Guru Pamulang Gagal

04

IHSG Berpotensi Koreksi, Cek Rekomendasi Saham RAJA, SMDR, dan WIFI

05

Eks Polisi Terlibat Peredaran Narkoba dari Dalam Penjara Nusakambangan

06

Suku Bunga Turun, Kinerja Saham Bank Diprediksi Melesat di Semester II 2025

07

Dominasi Atletico Madrid di Balik Final Piala Dunia Spanyol vs Argentina

08

Ahmad Sahroni Jebak Penipu Mengaku Utusan KPK Senilai Rp 300 Juta

Berita Terbaru