News

AS Gempur Target Iran, Konflik di Kuwait dan Bahrain Picu Lonjakan Minyak

Washington, Gonesia.com – Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap Iran pada Selasa.

Langkah ofensif Washington ini dipicu oleh dugaan serangan Teheran terhadap tiga kapal dagang yang melintasi jalur krusial Selat Hormuz.

Sebagai respons cepat atas gempuran tersebut, Iran meluncurkan serangkaian serangan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.

Tindakan saling balas ini secara langsung mengancam stabilitas gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati oleh kedua negara yang bertikai.

Ketegangan ini memperburuk prospek perdamaian yang diupayakan pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Februari silam.

Dua Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Terkait Dugaan Pelanggaran Etik

Dampak ekonomi global mulai terasa secara instan melalui lonjakan tajam harga minyak dunia akibat ancaman terhadap kelancaran arus logistik di Selat Hormuz.

Selat tersebut diketahui menjadi urat nadi perdagangan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global setiap harinya.

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (Centcom) memberikan penjelasan resmi mengenai operasi militer mereka melalui keterangan tertulis pada Senin (6/7/2026).

“Pasukan Komando Pusat AS telah mulai meluncurkan serangkaian serangan kuat terhadap Iran untuk membebankan biaya berat untuk menargetkan dan menyerang kapal komersial yang diawaki oleh warga sipil tak berdosa di jalur air internasional,” tulis Centcom melalui akun X.

Ia menegaskan bahwa serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial merupakan tindakan agresif yang tidak dapat dibenarkan.

KPK Telusuri Laporan Gratifikasi Menhut Raja Juli Antoni Terkait Kasus Kuansing

Lanjut dia, insiden tersebut dikategorikan sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berjalan.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) merespons dengan mengumumkan operasi gabungan rudal dan drone terhadap fasilitas strategis Amerika Serikat.

Target serangan mencakup Bandar Salman, kawasan Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain, serta Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait.

Ia mengklaim bahwa pasukan mereka juga berhasil menembak jatuh satu unit drone pengintai MQ-9 milik Amerika Serikat.

Pemerintah Amerika Serikat turut memperketat tekanan ekonomi dengan mencabut pengecualian sementara terhadap sanksi penjualan minyak Iran.

AS Cabut Pelonggaran Sanksi Minyak Iran Usai Insiden Selat Hormuz

Departemen Keuangan Amerika Serikat menyatakan seluruh aktivitas produksi dan penjualan minyak Iran wajib dihentikan paling lambat 17 Juli.

Kebijakan ini mempercepat batas waktu yang sebelumnya ditetapkan hingga 21 Agustus.

Insiden di Selat Hormuz melibatkan tiga kapal tanker berbendera Liberia, Arab Saudi, dan Kepulauan Marshall.

United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) melaporkan salah satu tanker pengangkut gas alam cair terbakar di lepas pantai Oman.

Dua kapal lainnya dilaporkan mengalami kerusakan ringan dan tetap melanjutkan pelayaran tanpa adanya korban jiwa.

Harga minyak mentah melonjak dari kisaran USD 69 menjadi hampir USD 73 per barel, mencatatkan kenaikan sekitar 6 persen.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk Urusan Hukum dan Internasional, Kazem Gharibabadi, menilai langkah Washington melanggar nota kesepahaman pertengahan Juni.

Dia memperingatkan melalui media sosial bahwa Iran akan mengambil langkah tegas untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

Proses diplomasi yang sempat diupayakan melalui mediator di Qatar kini terancam terhenti total akibat konflik terbuka ini.

Situasi internal Iran yang sedang berduka atas wafatnya mantan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei diperkirakan akan semakin menunda pembicaraan diplomatik.

Komentar