Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan hari ini, Kamis (25/6). Mata uang Garuda sempat dibuka melemah ke level Rp 17.967 per dolar AS, terkoreksi 0,08% atau 15 poin dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp 17.952 per dolar AS. Meski sempat terjadi upaya penguatan tipis hingga ke level Rp 17.958 pada pukul 09.20 WIB, tekanan jual terhadap rupiah tetap mendominasi pasar valuta asing.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa penguatan indeks dolar AS yang saat ini mencapai level tertinggi dalam 13 bulan terakhir menjadi faktor utama penekan mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut Lukman, pasar global saat ini sedang merespons sentimen kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah semakin meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, membawa indeks dolar AS naik mencapai level tertinggi baru 13 bulan,” ujar Lukman. Ia memproyeksikan pergerakan mata uang rupiah sepanjang hari ini akan berada pada rentang konsolidasi antara Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS.
Kondisi ini diperparah dengan sentimen negatif yang terus membayangi pasar domestik setelah pada perdagangan sebelumnya rupiah tercatat melemah 0,52% dari posisi Rp 17.854 ke Rp 17.952 per dolar AS. Para pelaku pasar kini lebih berhati-hati dalam menempatkan aset mereka di pasar berkembang karena arus modal cenderung kembali ke instrumen berbasis dolar AS yang dianggap lebih menjanjikan imbal hasil seiring kebijakan moneter yang ketat.
Senada dengan hal tersebut, Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memperingatkan bahwa potensi depresiasi rupiah masih terbuka lebar. Fikri bahkan memprediksi nilai tukar rupiah bisa tertekan lebih dalam hingga menyentuh level Rp 18.100 per dolar AS jika sentimen eksternal tidak kunjung mereda.
“Faktor utamanya adalah makin besarnya ekspektasi kenaikan 25 basis poin (bps) Fed Rate pada pertemuan bulan September mendatang,” ungkap Fikri. Ia menjelaskan bahwa pasar kini telah memfaktorkan kemungkinan kenaikan suku bunga tersebut ke dalam harga pasar, sehingga posisi dolar AS terus menguat secara global.
Selain kebijakan suku bunga, investor juga sedang menanti rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index Amerika Serikat yang dijadwalkan akan diumumkan malam ini. Data inflasi ini merupakan acuan utama yang digunakan oleh The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan. Ekspektasi kenaikan angka PCE ini dipandang pasar sebagai sinyal bahwa tekanan inflasi di AS masih persisten, yang pada akhirnya memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Ketidakpastian mengenai data tersebut membuat investor cenderung mengambil posisi aman dengan memegang dolar AS.

