Berita

Pendidikan Karakter Jadi Jawaban di Tengah Kepintaran AI

sesuatu-yang-tak-tergantikan-ai
Sesuatu yang Tak Tergantikan AI

Jakarta – Di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan, pendidikan dinilai tak cukup hanya melahirkan manusia yang cerdas secara teknis. Yang jauh lebih penting, kata Buya Hamka, adalah kemampuan menjaga bijak, adab, dan kejernihan hati di saat manusia semakin berlomba menjadi pintar.

Pendidikan sejak lama dipercaya sebagai jalan keluar dari kebodohan dan kemiskinan. Lewat pendidikan, seseorang bukan hanya dibekali keterampilan untuk bekerja dan mencari nafkah, tetapi juga diajak mengenali diri, memahami orang lain, dan ikut membangun peradaban yang lebih beradab.

Masalahnya, perubahan zaman kini berlangsung sangat cepat. Di layar gawai, Artificial Intelligence bukan lagi gagasan futuristik. Teknologi itu sudah hadir dan memengaruhi cara orang bekerja, berpikir, hingga berinteraksi sehari-hari.

Mesin kini dapat menulis artikel, menghasilkan gambar, menyusun kode program, bahkan membaca arah tren masa depan. Banyak pekerjaan perlahan bisa diotomatisasi, sehingga kemampuan manusia seolah mendapat penantang baru.

Namun, di balik gemuruh kemajuan teknologi itu, ada satu hal yang tak mungkin ditiru oleh sekumpulan kode secanggih apa pun: adab dan akhlak. Mesin mungkin mampu menyimpan miliaran data, tetapi ia tidak merasakan kasih sayang. Ia bisa menjawab pertanyaan, tetapi tidak menghidupkan empati. Ia dapat belajar dari algoritma, namun tanpa nilai yang ditanamkan manusia, ia tak mampu membedakan yang baik dan yang benar.

Erick Thohir Evaluasi Cabor PON 2028 Demi Efisiensi Anggaran

Karena itu, pendidikan seharusnya tidak berhenti pada pencetakan manusia pintar. Pendidikan mesti membentuk manusia yang berkarakter.

Salah satu cara paling sederhana untuk menumbuhkan karakter adalah membaca. Sejak kecil, masyarakat akrab dengan ungkapan bahwa buku merupakan jendela dunia. Kalimat itu terdengar ringan, tetapi maknanya besar: lewat buku, seseorang bisa menjelajahi dunia tanpa berpindah tempat.

Dari lembar demi lembar bacaan, manusia belajar sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pengalaman hidup dari berbagai penjuru dunia. Membaca pun bukan hanya memperluas pengetahuan, tetapi juga melatih kesabaran, memperkaya imajinasi, membangun kepercayaan diri, dan menajamkan watak.

Orang yang terbiasa membaca umumnya lebih mudah memahami kehidupan, lebih terbuka terhadap perbedaan, dan lebih matang saat mengambil keputusan. Kebiasaan itu juga bukan sesuatu yang muncul sejak lahir. Tak ada manusia yang terlahir dengan kegemaran membaca. Minat tersebut perlu dipupuk terus-menerus melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan.

Buku pun melampaui batas wilayah dan generasi. Melalui buku, gagasan dari berbagai belahan dunia bisa diwariskan, dipindahkan, dan diteruskan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Tak berlebihan bila peradaban besar selalu ditopang masyarakat yang mencintai ilmu dan menjadikan membaca sebagai kebiasaan hidup.

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Dorong Pembalap Muda ke Dunia

Kecerdasan buatan mungkin terus melesat. Mesin akan kian canggih, pekerjaan akan berubah, dan dunia bergerak menuju masa depan yang belum sepenuhnya terbayangkan hari ini.

Tetapi satu hal yang tak boleh ikut hilang adalah keseimbangan antara ilmu dan amal, antara kecerdasan dan kebijaksanaan, serta antara kemampuan berpikir dan keluhuran akhlak.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak dikenang karena jumlah informasi yang ia kuasai. Ia dikenang karena manfaat yang ia tinggalkan.

Sejalan dengan pesan Buya Hamka, tujuan hidup bukan kemewahan atau pujian yang bertumpuk, melainkan jiwa yang bersih dan tenang, dengan ilmu dan amal yang berjalan seiring.

Komentar
Spring Airlines Buka Dua Rute Langsung Tiongkok-Jakarta

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

04

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

05

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru