Jakarta – Rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan yang signifikan di pasar valuta asing Asia. Hingga penutupan perdagangan Selasa (17/6/2026), mata uang Garuda mencatatkan diri sebagai mata uang dengan koreksi terdalam di kawasan ini, menyusul penguatan berkelanjutan dari dolar Amerika Serikat (AS).
Data pasar menunjukkan nilai tukar rupiah tertekan hingga 0,37% ke level Rp 17.755 per dolar AS. Posisi ini mengalami kemerosotan dibandingkan harga pembukaan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.690 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang domestik ini tidak terjadi sendirian. Sejumlah mata uang regional lainnya juga turut terkoreksi di hadapan dolar AS, mencerminkan sentimen pasar yang masih dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global.
Won Korea Selatan terpantau melemah 0,32%, disusul oleh pelemahan tipis pada baht Thailand sebesar 0,05% dan peso Filipina dengan persentase yang sama. Sementara itu, dolar Taiwan juga mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 0,06%.
Di sisi lain, tidak seluruh mata uang Asia mengalami nasib serupa. Beberapa mata uang justru mampu menunjukkan ketahanan atau bahkan penguatan di tengah dominasi dolar AS.
Yen Jepang tercatat menguat 0,07%, sementara dolar Singapura berhasil naik 0,02%. Yuan China juga menunjukkan performa positif dengan penguatan tipis sebesar 0,01% terhadap dolar AS pada perdagangan hari yang sama.
Jika ditarik dalam perspektif yang lebih luas, kinerja rupiah sepanjang tahun 2026 tampak sebagai yang paling tertekan dibandingkan mata uang lainnya di Asia. Sejak awal tahun, rupiah telah melemah sekitar 6,11% dari posisi akhir 2025 yang berada di level Rp 16.670 per dolar AS.
Angka pelemahan ini melampaui koreksi mata uang regional lainnya. Sebagai perbandingan, rupee India tercatat turun 4,96% dan won Korea Selatan terkoreksi 4,86%.
Selain itu, peso Filipina mencatatkan pelemahan sebesar 2,45%, yen Jepang turun 2,30%, serta baht Thailand melemah 3,31% sepanjang tahun berjalan. Kondisi ini menegaskan bahwa rupiah menjadi aset yang paling rentan terhadap arus modal keluar dan sentimen penguatan dolar AS.
Berbeda dengan rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia justru berhasil mencatat penguatan sejak awal tahun. Yuan China memimpin dengan apresiasi sekitar 3,42%, diikuti oleh dolar Singapura yang menguat 0,30%.
Ringgit Malaysia tercatat berada dalam posisi yang relatif stabil. Meskipun mengalami tekanan, pelemahannya tergolong terbatas, yakni hanya sekitar 0,22% sepanjang tahun 2026.
Pergerakan nilai tukar yang fluktuatif ini menyoroti masih kuatnya pengaruh eksternal terhadap pasar keuangan domestik. Ketidakpastian global yang terus membayangi membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam menempatkan modalnya di negara-negara berkembang.
Rupiah yang berada di level Rp 17.755 pun menjadi indikator utama betapa tingginya tekanan terhadap pasar valuta asing domestik saat ini. Dinamika ini diprediksi akan terus berlanjut selama arus modal global masih menempatkan dolar AS sebagai instrumen yang lebih aman.

