JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tajam pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026). Indeks utama bursa domestik ini anjlok 252,63 poin atau sekitar 4,52% ke posisi 5.342,14, mencerminkan tingginya tekanan jual yang dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari pasar global maupun domestik.
Performa negatif IHSG ini sejalan dengan pelemahan bursa saham di kawasan Asia. Penurunan tersebut dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul serangan rudal yang diluncurkan Iran ke wilayah Israel. Aksi militer ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas kawasan, yang kemudian memicu sentimen risk off di kalangan investor internasional.
Selain faktor geopolitik, pasar domestik juga menghadapi tekanan berat akibat derasnya arus keluar modal asing atau capital outflow. Kondisi ini diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh kisaran Rp18.200 per dolar Amerika Serikat. Depresiasi mata uang Garuda tersebut secara langsung memukul minat investor terhadap aset-aset berisiko di pasar modal Indonesia.
Analisis dari sisi fundamental menunjukkan bahwa kekhawatiran pelaku pasar juga tertuju pada kebijakan fiskal pemerintah yang dinilai ekspansif, terutama terkait potensi lonjakan anggaran subsidi energi. Beban fiskal yang meningkat ini menciptakan persepsi ketidakpastian ekonomi di mata investor institusi maupun ritel.
Dari sisi eksternal, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang tercatat lebih kuat dari ekspektasi pasar turut memberikan sentimen negatif. Data tersebut memicu spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, akan mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kebijakan suku bunga tinggi cenderung menekan pasar saham negara berkembang karena selisih imbal hasil yang menjadi kurang menarik.
Secara teknikal, tren penurunan IHSG saat ini dinilai cukup kuat. Dengan probabilitas mencapai 72%, indeks diprediksi masih memiliki potensi untuk melanjutkan pelemahan menuju level psikologis berikutnya di angka 5.080 hingga 5.000. Rentang pergerakan pasar yang perlu diwaspadai pelaku pasar dalam waktu dekat berada di kisaran 5.180 hingga 5.380.
Meski demikian, terdapat potensi penguatan terbatas pada perdagangan Selasa (9/6/2026). Indeks diproyeksikan akan bergerak dengan level support di 5.300 dan resistance di 5.386. Pelaku pasar kini tetap memantau rilis data neraca perdagangan dari China dan Amerika Serikat sebagai indikator pemulihan ekonomi global.
Dalam menghadapi volatilitas pasar yang tinggi, investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan selektif dalam menempatkan modal. Beberapa saham yang dipantau oleh analis untuk perdagangan jangka pendek mencakup emiten sektor otomotif seperti ASII dengan rentang harga Rp4.690–Rp4.960, sektor peternakan JPFA di kisaran Rp1.895–Rp2.160, serta sektor pertambangan nikel NICL di level Rp525–Rp630. Kondisi pasar saat ini menuntut kejelian dalam merespons setiap perubahan data makroekonomi yang masuk.

