IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Pakar Keamanan TI Beri Tips Lindungi Data Pribadi dari Kebocoran Bank

JAKARTA – Isu kebocoran data yang belakangan menimpa sejumlah institusi perbankan sempat memicu kekhawatiran publik. Kendati demikian, pakar digital dan CEO Veda Praxis, Syahraki Syahrir, menegaskan bahwa sektor perbankan Indonesia justru memiliki sistem keamanan yang paling matang dan kuat dibandingkan industri lainnya.

Menurut Syahraki, perbankan di Indonesia telah lama menerapkan standar keamanan informasi yang ketat. Pengawasan sektor ini pun dilakukan secara berlapis oleh berbagai otoritas, mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), hingga Kementerian Komunikasi dan Digital.

Terkait maraknya informasi kebocoran data di *dark web*, Syahraki meminta masyarakat agar tidak panik secara berlebihan. Ia menjelaskan bahwa *dark web* merupakan area internet yang tidak terindeks dan sering digunakan untuk menyebarkan data yang belum terverifikasi kebenarannya.

Ia juga menekankan bahwa ekosistem digital saat ini saling terhubung, sehingga data yang beredar belum tentu berasal dari sistem inti perbankan. Bisa jadi, data tersebut berasal dari pihak ketiga atau mitra layanan yang terkoneksi dengan bank.

“Jangan langsung menyimpulkan sistem perbankan yang lemah. Kita harus meneliti sumber data tersebut karena perbankan memiliki lapisan pengamanan yang terus ditingkatkan oleh regulator,” ujar Syahraki, Sabtu (23/5).

Kepercayaan Nasabah Meningkat, DPK BRI Tembus Rp1.580 Triliun

Senada dengan hal tersebut, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengingatkan pentingnya peran nasabah dalam menjaga keamanan data pribadi. Meski bank telah menerapkan sistem keamanan berlapis, kelalaian nasabah masih menjadi celah utama bagi pelaku kejahatan siber.

Friderica menyoroti bahwa risiko kejahatan digital kini semakin meningkat seiring dengan kecanggihan modus pelaku. Di sisi lain, tingkat literasi digital dan keuangan masyarakat masih perlu ditingkatkan agar tidak mudah terjebak dalam penipuan.

Menanggapi hal itu, Syahraki mengimbau masyarakat untuk membangun budaya kehati-hatian dalam beraktivitas di ruang digital. Ia menyarankan nasabah agar tidak mudah memberikan informasi sensitif kepada pihak mana pun, termasuk oknum yang mengatasnamakan bank.

“Password, PIN, dan kode OTP adalah informasi rahasia yang tidak boleh diberikan kepada siapa pun. Jangan mudah percaya dengan telepon, pesan instan, atau tautan yang mencurigakan,” tegasnya.

Syahraki menyarankan masyarakat untuk selalu melakukan verifikasi melalui kanal resmi, seperti aplikasi perbankan atau mendatangi langsung kantor cabang terdekat guna memastikan keamanan transaksi. Di era digital saat ini, sikap waspada merupakan benteng utama dalam melindungi aset pribadi dari ancaman kejahatan siber.

Bedah Realisasi Capex dan Prospek Kinerja Emiten LQ45 di 2026

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

07

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

08

HUT ke-81 RI, Paspampres kerahkan 1.147 personel dan alusista amankan VVIP

Berita Terbaru