Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyoroti dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) saat peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 di Istora Senayan, Jakarta Pusat.
Nasaruddin menilai, meski dinamis, NU tetap menjaga kekeluargaan dan keharmonisan. Ia menyebut 100 tahun NU menunjukkan kematangan organisasi, meski ada perbedaan pandangan internal.
"NU itu seperti keluarga besar. Di dalamnya penuh dengan dinamika, tetapi tetap menjadi keluarga sakinah," kata Nasaruddin.
Ia menggambarkan NU sebagai pesantren besar yang terbiasa dengan perdebatan dan perbedaan pandangan, misalnya dalam kajian keilmuan dan mazhab. Dinamika ini justru menjadi kekuatan NU dalam menjaga tradisi keilmuan Islam.
"Di dalam pondok pesantren itu penuh dengan dinamika, ada pembahasan-pembahasan antar madzhab; Madzhab Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, Ahmad bin Hambal. Dan kadang-kadang sangat panas diskusinya," katanya.
Nasaruddin menekankan bahwa perbedaan tersebut tidak merusak etika dan akhlak di NU. Ia mencontohkan tradisi santri yang tetap menjunjung tinggi adab kepada kiai, meski berbeda pendapat.
"Sungguhpun antara mungkin santri dengan kiai berbeda pendapat, tetapi akhlakul karimah seorang santri sangat menjunjung tinggi keberadaan kiai," ucapnya.
Nasaruddin menyebut NU mampu menjaga keseimbangan antara dinamika dan keharmonisan. NU tidak menghapus perbedaan, tetapi tidak membiarkannya menjadi sumber perpecahan.
"Nahdlatul Ulama tidak akan pernah menyamakan sesuatu yang berbeda dan tidak akan pernah membedakan sesuatu yang sama. Itulah moderasi yang dibangun oleh Nahdlatul Ulama," tegasnya.
Menag menilai NU akan terus menjadi kekuatan besar bangsa Indonesia jika mampu mengelola dinamika internal secara dewasa dan kolektif.
"Insyaallah NU ke depan tetap akan kita jadikan sebagai wadah kekuatan besar bangsa Indonesia ini," kata Nasaruddin.


