Jakarta – Perdagangan emas digital di Indonesia menunjukkan tren positif dan berkembang pesat. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Nursalam di kantor Kementerian Perdagangan, Jumat (2/1/2026).
Menurut Nursalam, potensi pasar emas di Indonesia sangat besar sehingga menjadi fokus pengembangan ICDX.
Pernyataan ini disampaikan usai pembukaan perdagangan bursa berjangka komoditi Indonesia 2026.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan mencatat volume transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) Januari–November 2025 mencapai 14,56 juta lot. Angka ini meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai transaksi pasar fisik emas digital selama periode Januari hingga 15 Desember 2025 tercatat sebesar Rp 107,43 triliun dengan volume transaksi mencapai 55,58 metrik ton.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti mengatakan bahwa Bappebti menyediakan pengaturan dan pengawasan pasar komoditas untuk menanggapi pesatnya perdagangan emas digital di Indonesia.
Pengaturan dan pengawasan ini penting untuk memberikan kepastian berusaha, meningkatkan investasi dalam negeri, dan mencegah kejahatan seperti pencucian uang hingga pendanaan terorisme.
Perdagangan pasar emas digital telah beroperasi di Indonesia sejak 2019, seiring dengan terbitnya Peraturan Bappebti Nomor 4 Tahun 2019.
Peraturan ini mengatur tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Emas Digital di Bursa Berjangka.
Aktivitas pasar fisik emas digital dilakukan menggunakan sarana elektronik yang difasilitasi Bursa Berjangka atau sarana elektronik yang dimiliki oleh pedagang fisik emas digital untuk transaksi jual atau beli.
World Gold Council (WGC) menyatakan bahwa prospek emas pada 2026 bergantung pada perkembangan kebijakan tarif dagang dan tren pemangkasan suku bunga Amerika Serikat.
Head of Asia Pacific (ex-China) and Global Head of Central Banks WGC Shaokai Fan menjelaskan, harga emas dapat terjaga dengan baik jika perselisihan tarif dagang antara AS dengan negara lain dapat diselesaikan dengan baik.
“Dengan begitu, sebagian risiko di pasar mungkin akan berkurang, sehingga harga emas kemungkinan tidak terpengaruh,” kata Shaokai dalam taklimat media di Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Selain perang tarif, Shaokai mencermati tren pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Harga emas bergerak positif jika The Fed terus menurunkan suku bunga.
Presiden AS saat itu, Donald Trump, berencana untuk memilih Ketua The Fed yang lebih terbuka dengan kebijakan penurunan suku bunga. “Saya kira besar peluang harga emas akan bereaksi positif terhadap perubahan suku bunga,” tutur Shaokai.
Dari segi bentuk emas, Shaokai berpendapat tidak ada proyeksi khusus soal minat bentuk emas ke depannya. Keputusan investasi pada emas sangat bergantung pada preferensi spesifik tiap investor.
Sebagian investor lebih memilih emas fisik karena bisa menyentuh dan merasakan aset investasinya secara langsung.
Namun, ada juga investor yang lebih menyukai emas digital karena dianggap lebih praktis dan tidak membutuhkan biaya tambahan untuk penyimpanan.
“Investor yang lebih menyukai sesuatu yang cepat dan mudah, dengan pemahaman literasi yang baik, kemungkinan lebih memilih emas ETF (reksa dana berbasis emas). Tapi, investor yang lebih menyukai unsur kepemilikan emas fisik secara langsung, tentu lebih memilih emas fisik,” kata dia.


