Jakarta Timur – Kebakaran hebat melanda Pasar Induk Kramat Jati, menghanguskan Los C2 Sub Grosir Buah dan ratusan kios. Mujilah, seorang pedagang yang telah berjualan selama tiga dekade, kehilangan warung lauk pauknya dalam hitungan menit.
Kobaran api melahap habis warung Mujilah, tempat ia mencari nafkah dan menghidupi keluarganya. "Usaha yang dirintis dari awal, hilang dalam beberapa detik," ucap Mujilah dengan nada lirih.
Sehari setelah kejadian, aktivitas pasar mulai berdenyut kembali. Pedagang pepaya mulai menata dagangan di tengah sisa-sisa kebakaran.
Warung Mujilah menjadi titik awal kebakaran di Los C2. "Itu dari dempet saya, mas. Toko plastik itu dempetan sama saya. Nomor satu titik api yang kena," kata Mujilah, menunjuk puing-puing warungnya.
Api berasal dari gudang plastik yang berdekatan dengan warungnya. Mujilah tak sempat menyelamatkan apa pun, termasuk sepeda motornya. "Panik, udah gak bisa mikir apa-apa. Mau ngambil motor juga gak berani. Plastik meleleh netes-netes, takut. Yaudah lari aja," kenangnya.
Kerugian Mujilah diperkirakan mencapai Rp75 juta, termasuk uang tunai dan perabot warung. "Itu uang mau buat bayar kontrakan, mas. Eh kebakar," ujarnya. Warung itu menjadi sumber penghidupan Mujilah dan empat karyawannya.
"Saya nangis, langsung gelempoh saya, ngerti gelempoh enggak? Langsung brukkk aja, lemes saya, duduk disana saya ditimbangan mobil, aduh ya Allah, langsung istighfar mas, gak pernah lihat seumur-umur," kenangnya.
Malam setelah kebakaran, Mujilah tak bisa tidur. "Kebayang api tuh, brrrrrr gitu lho, muter-muter whoaahh, heran saya, kayak angin topan, makanya, mau nyelamatin motor aja gak bisa, takut," ujarnya. "Trauma. Deg-degan terus bawaan nya," sambungnya.
Keesokan harinya, Mujilah kembali ke lokasi dan mendapati warungnya telah menjadi abu. "Gak kelihatan apa-apa. Kompor, gelas, semua lembut jadi abu," katanya.
Hingga Rabu, Mujilah belum kembali berjualan. "Hari ini saya mau survei tempat. Mau bikin tenda di pinggir, yang ada pohon itu," katanya. Ia memilih untuk segera bangkit demi karyawannya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjanjikan bantuan Rp5 juta per pedagang dan pembangunan penampungan sementara. "Kalau dikasih ya Alhamdulillah. Tapi jauh banget dari kerugian," katanya.
Pelanggan Mujilah menawarkan bantuan berupa kompor, panci, dan meja. "Ada yang nawarin kompor, panci, meja," ujarnya terharu.
Mujilah telah berjualan di Pasar Induk Kramat Jati sejak 1995. "Yang lain seumuran saya udah pada istirahat, Saya belum, paling tua dan lama saya disini," katanya. Warungnya dikenal sebagai tempat makan para sopir pepaya asal Malang.
Saat ditanya apa yang ingin ia katakan jika api bisa bicara, Mujilah terdiam. "Kok punya saya dibakar semua ya, tapi ya namanya musibah," ujarnya pasrah.
"Insya Allah mulai lagi. Orang langganan pasti nyari," katanya. Mujilah bertekad untuk membangun kembali hidupnya dari nol.


