JAKARTA – Ibu kota bersiaga menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan melanda hingga Februari 2026. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera menggelar langkah kesiapsiagaan komprehensif setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait ancaman hidrometeorologi.
BMKG memprediksi kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor. Suhu muka laut di perairan Indonesia saat ini menghangat antara 0,5 hingga 3 derajat Celsius di atas normal, memperkuat proses penguapan dan pembentukan awan hujan secara signifikan.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan aktifnya monsun Asia sejak November juga membawa massa udara lembap dari Samudra Hindia ke wilayah Indonesia. Selain itu, fenomena La Niña lemah dengan indeks -0,61 terdeteksi, berpotensi memperpanjang musim hujan di sebagian besar wilayah.
Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana seperti banjir, longsor, dan genangan air. BMKG menyarankan agar warga rutin memantau peringatan dini melalui kanal resmi lembaga tersebut.
Menindaklanjuti peringatan tersebut, Pemprov DKI Jakarta langsung merespons dengan menggelar apel dan simulasi kesiapsiagaan bertajuk “Jaga Jakarta” di Ruang Limpah Sungai Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Selasa (4/11/2025).
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menekankan pentingnya persiapan dini. “Kami bersiap-siap sejak awal supaya tidak terjadi lagi penanganan yang terlambat,” tegas Pramono, merujuk pada prediksi kenaikan curah hujan hingga Februari tahun depan.
Berbagai langkah teknis masif digeber. Pemprov DKI melakukan pengerukan di 1.803 titik sungai dan waduk, berhasil mengumpulkan total 721.243 meter kubik sedimen guna meningkatkan daya tampung air. Selain itu, 560 pompa stasioner disiapkan di 191 lokasi dan 627 pompa mobile disebar di lima wilayah administrasi.
Dukungan operasional lapangan mencakup 258 ekskavator dan 449 dump truck. Tujuh rumah pompa dan sejumlah pintu air di kawasan pesisir utara Jakarta juga disiagakan untuk mengantisipasi banjir rob.
Pemprov DKI juga menerapkan solusi berbasis alam, seperti pembangunan waduk, situ, dan embung. Penebangan dan penopingan pohon berisiko tumbang pun terus dilakukan. Pramono menambahkan, “Pasukan Pelangi yang terdiri dari unsur lintas dinas disiapkan untuk pemantauan dan penanganan cepat di lapangan, serta sosialisasi edukasi cuaca ekstrem.”
Sebagai upaya mitigasi tambahan, Pemprov DKI berkolaborasi dengan pemerintah pusat melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 5 hingga 10 November 2025. Program ini bertujuan mengendalikan potensi hujan lebat di titik-titik rawan genangan dengan menabur bahan higroskopis di langit barat dan selatan Banten.
Jakarta, sebagai dataran rendah yang dialiri 13 sungai, rentan terhadap banjir akibat limpasan air dari Bogor dan Depok, serta banjir rob di pesisir utara saat pasang laut bersamaan dengan fase bulan purnama. Gubernur Pramono meminta seluruh personel lapangan dan dinas teknis memperkuat kolaborasi lintas sektor.
“Tingkatkan komunikasi, pemantauan, dan kecepatan informasi kepada warga di sekitar masing-masing,” tegasnya. Apel kesiapsiagaan yang dimulai di Jakarta Selatan – area yang beberapa hari terakhir terdampak hujan deras – akan berlanjut di seluruh kota administrasi melibatkan TNI, Polri, relawan, dan masyarakat. “Mari jadikan apel pagi ini sebagai bukti nyata komitmen kita untuk melindungi warga Jakarta dari risiko bencana,” pungkas Pramono.


