Jakarta – Presiden Prabowo Subianto melakukan perombakan (reshuffle) Kabinet Merah Putih, salah satunya dengan mengganti posisi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Jabatan strategis ini kini diisi oleh Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Keputusan penting ini sontak memicu gejolak signifikan di pasar keuangan nasional.
Pada Senin (7/9/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau anjlok tajam menjelang penutupan perdagangan. IHSG ditutup merosot 100 poin atau setara 1,28 persen, berada pada posisi 7.766. Penurunan drastis ini mengonfirmasi kekhawatiran para pengamat ekonomi yang sebelumnya memprediksi reaksi negatif pasar terhadap pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan.
Manajer Riset dan Pengetahuan The Prakarsa, Roby Rushandie, sebelumnya telah memperkirakan bahwa jika Sri Mulyani mundur, pasar keuangan akan merosot tajam. Senada, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, menegaskan secara empiris pengumuman politik akan berdampak pada nilai tukar dan IHSG. Ia memprediksi depresiasi rupiah terhadap dolar AS dan penurunan IHSG akan terjadi.
Pengamat ekonomi dari Indef, Fadhil Hasan, mengakui bahwa Sri Mulyani selama ini berhasil menjaga kebijakan fiskal Indonesia tetap stabil, sebuah pencapaian yang diakui luas oleh dunia usaha dan lembaga internasional. Namun, Fadhil juga menilai adanya penurunan kredibilitas kebijakan fiskal dalam beberapa tahun terakhir akibat banyaknya akomodasi terhadap keinginan Presiden Jokowi.
Fadhil mewanti-wanti agar persepsi bahwa Sri Mulyani diganti karena kebijakan yang tidak pro-rakyat harus dihindari, sebab hal itu dikhawatirkan memicu reaksi negatif dari pasar dan investor. Mengenai Purbaya Yudhi Sadewa, Fadhil menilai Purbaya adalah ekonom yang baik dan paham persoalan, namun belum memiliki pengalaman langsung mengelola fiskal dan ekonomi secara keseluruhan, sehingga “bukan pilihan terbaik.”
Sepanjang hari perdagangan, IHSG bergerak dengan titik tertinggi di 7.934 dan titik terendah di 7.766. Total transaksi pada hari itu mencapai Rp14,06 triliun, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,9 juta kali. Saham-saham yang masuk dalam jajaran *top losers* antara lain HUMI, IOTF, MINA, dan GZCO, sementara LAJU, BAPA, CBRE, dan PPRI tercatat sebagai *top gainers*.


