IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Seluruh Sektor BEI Merah, Analis Sarankan Selektif Beli Saham

Performa seluruh indeks sektoral BEI berada di zona merah, ini saran analis

Jakarta – Memasuki awal kuartal IV-2026, seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum mampu keluar dari tekanan. Hingga penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026), semuanya masih berada di zona merah secara year to date (ytd) tanpa satu pun sektor mencatatkan kenaikan.

Pelemahan paling dalam terjadi pada sektor teknologi yang anjlok 39,92%. Di sisi lain, transportasi dan logistik menjadi indeks yang paling tahan banting, meski koreksinya tetap cukup besar, yakni 14,76%.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai pelemahan itu tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar yang sejak awal tahun memang bergejolak. Ia menyebut tekanan datang dari kenaikan yield US Treasury, sikap bank sentral global yang kembali hawkish, harga minyak yang tinggi akibat ketegangan geopolitik, pelemahan rupiah, serta derasnya arus keluar dana asing.

Namun, menurut Ekky, penyebab pelemahan tiap sektor tidak seragam. Energi, misalnya, sempat tertekan oleh kekhawatiran normalisasi permintaan batu bara. Meski begitu, harga batu bara belakangan kembali menguat dan harga minyak yang tinggi memberi dukungan tambahan bagi sektor tersebut.

Pada kelompok basic materials, pergerakan juga bervariasi. Emas masih mendapat sokongan dari ketidakpastian global, sementara nikel masih dibayangi persoalan oversupply.

IHSG Menguat Tipis, GOTO, BBCA, BBRI Ramai Ditransaksikan

Sektor konsumer pun belum lepas dari tekanan karena daya beli yang masih lemah. Sementara itu, financials, khususnya big banks, ikut tertekan oleh foreign outflow, rupiah yang melemah, dan tingginya yield global.

Tekanan valuasi juga sempat menghantam sektor teknologi, telekomunikasi, dan infrastruktur digital akibat kenaikan yield. Tetapi setelah koreksi cukup dalam, sebagian saham di area tersebut mulai terlihat menarik, terutama emiten yang punya eksposur terhadap pertumbuhan trafik data, data center, dan pengembangan AI.

Ekky melihat kuartal IV berpeluang membuka rotasi sektoral, tetapi pergerakannya cenderung selective recovery, bukan pemulihan serentak di semua sektor. “Momentum window dressing memang dapat memberikan tambahan sentimen pada akhir tahun, tetapi menurut kami investor tetap perlu berfokus pada sektor yang sudah terkoreksi namun masih memiliki earnings dan katalis yang jelas,” ujarnya kepada Kontan, Senin (5/10/2026).

Menurut dia, energy dan basic materials termasuk yang punya peluang memangkas penurunan. Harga batu bara global kembali berada di level yang cukup tinggi, dengan kontrak Newcastle November pada awal Oktober berada di kisaran US$ 149,55 per ton. Kondisi itu dinilai mendukung emiten batu bara yang memiliki cash cost rendah dan neraca keuangan kuat.

Untuk basic materials, ia lebih memilih saham yang memiliki eksposur ke emas ketimbang yang terlalu bergantung pada nikel. Alasannya, risiko oversupply pada nikel masih belum hilang.

Rupiah Melemah Pagi Ini, Sentuh Rp17.904 per Dolar AS

Di luar itu, sektor telekomunikasi, data center, dan tema AI juga masih menarik. Permintaan data disebut terus meningkat secara struktural, sementara investasi AI membutuhkan jaringan, komputasi, dan pasokan listrik yang makin besar. “Jadi setelah koreksi yang cukup dalam, beberapa saham di area ini menurut kami mulai menarik untuk bottom fishing,” kata Ekky.

Ia juga menyoroti sektor transportasi secara selektif, terutama shipping yang diuntungkan oleh freight rate tinggi dan gangguan jalur perdagangan. Adapun maskapai justru menghadapi risiko dari mahalnya harga minyak yang bisa menekan biaya bahan bakar.

Untuk financials, khususnya big banks, valuasi mulai terlihat lebih menarik. Meski begitu, pemulihan yang lebih kuat dinilai masih memerlukan stabilitas rupiah dan kembalinya aliran dana asing masuk ke pasar.

Ekky mengingatkan investor agar tidak semata-mata membeli sektor yang sudah turun paling dalam. Menurut dia, yang lebih penting adalah memastikan laba perusahaan masih sehat, valuasi sudah menarik, neraca kuat, dan ada katalis yang bisa mendorong earnings pada 2027. “Yang lebih penting adalah melihat apakah laba perusahaan masih sehat, valuasinya sudah menarik, balance sheet kuat dan terdapat katalis yang dapat mengembalikan earnings pada 2027,” tegasnya.

Untuk saham energi, Ekky masih menjagokan AADI. Penguatan harga batu bara diperkirakan menopang kinerja semester II, ditambah potensi arus kas dari transaksi Kestrel. Target harga saham ini berada di kisaran Rp 13.000-Rp 14.000.

IHSG Melemah, MNC Sekuritas Rekomendasikan Saham Hari Ini

PTBA juga masuk dalam daftar pilihan karena dinilai menarik bagi investor yang mencari kombinasi eksposur batu bara dan dividen. Target harganya dipatok di kisaran Rp 3.400-Rp 3.500 untuk jangka pendek-menengah.

Di kelompok basic materials, ANTM menjadi pilihan utama karena memiliki eksposur terhadap emas yang bisa menyeimbangkan risiko dari nikel. Target harga saham tersebut berada pada rentang Rp 3.800-Rp 4.000.

Untuk sektor telekomunikasi, Ekky memilih ISAT. Harga saham yang telah terkoreksi dari level tertinggi, ditambah pertumbuhan trafik data dan transformasi menuju AI TechCo, menjadi katalis jangka panjang. Indosat kini memiliki NeoCloud, bekerja sama dengan NVIDIA dan Google, serta mengembangkan AI-RAN bersama NVIDIA dan Nokia. Dengan harga sekitar Rp 2.220, target ISAT disebut masih menarik di kisaran Rp 2.800-Rp 3.000.

Pada tema AI yang lebih tidak langsung, Ekky menilai PGEO layak dicermati. Kebutuhan AI dan data center pada akhirnya menuntut pasokan listrik yang besar dan stabil, sementara PGEO mulai menjajaki peluang memasok listrik geothermal untuk green data center. Saat ini perusahaan juga sedang menguji feasibility proyek di Kamojang untuk mendukung ekosistem AI nasional.

Meski demikian, PGEO masih lebih dipandang sebagai AI infrastructure optionality karena bisnis utamanya tetap geothermal. Katalis AI belum menjadi penyumbang utama laba saat ini. Adapun target harga saham PGEO berada di kisaran Rp 1.250-Rp 1.300 dengan strategi akumulasi bertahap.

Dari sektor keuangan, BMRI masih menjadi preferensi Ekky. Setelah koreksi cukup dalam, valuasinya mulai lebih murah, sementara fundamental dinilai tetap solid. Target saham bank pelat merah itu berada di kisaran Rp 5.000-Rp 5.200.

“Jadi secara keseluruhan kami melihat kuartal IV lebih berpotensi menjadi periode selective recovery. Untuk tema utama, kami lebih menyukai AADI dan PTBA pada energi, ANTM pada basic materials, ISAT pada telekomunikasi sekaligus AI, PGEO sebagai indirect AI infrastructure play, serta BMRI untuk sektor keuangan,” tutup Ekky.

Komentar