IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp 17.963 per Dolar AS pada Jumat 24 Juli

Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di layar monitor perdagangan
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.963 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026.

JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di level Rp 17.963 per dolar AS pada perdagangan Jumat (24/7/2026).

Data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda terkoreksi sebesar 0,15% secara harian dibandingkan penutupan sebelumnya.

Kondisi tersebut memperpanjang tren negatif rupiah yang telah melemah 0,23% dalam kurun waktu satu pekan terakhir.

Berdasarkan kurs Jisdor Bank Indonesia, rupiah juga mencatatkan pelemahan sebesar 0,32% ke posisi Rp 17.973 per dolar AS.

Koreksi ini dipicu oleh eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.

Transaksi Emas Digital di ICDX Melonjak Jadi Rp172,7 Triliun Semester I-2026

Analis Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa memburuknya hubungan kedua negara tersebut menciptakan ketidakpastian pasar global.

“Pertempuran yang kembali memanas ini merupakan permusuhan terburuk AS-Iran sejak sebelum gencatan senjata April lalu, dengan pembicaraan damai antara kedua pihak tampaknya telah sepenuhnya gagal,” ujar Ibrahim, Jumat (24/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa serangan militer terhadap fasilitas strategis dan infrastruktur di Iran memicu kekhawatiran serius terkait blokade lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Gangguan pada jalur vital pengiriman minyak global ini berpotensi meningkatkan biaya logistik serta premi asuransi secara signifikan.

Kenaikan harga minyak mentah dunia pun kini membayangi kebijakan moneter Federal Reserve ke depannya.

Rupiah Melemah ke Rp17.973 per Dolar AS Akibat Tekanan Geopolitik

Inflasi yang berpotensi tetap tinggi dapat memaksa bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan suku bunga ketat dalam waktu lebih lama.

Sementara itu, faktor domestik turut memberikan tekanan tambahan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.

Ibrahim menyoroti lemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional tetap di bawah level 5%.

Para pelaku usaha di dalam negeri saat ini masih cenderung menahan diri untuk melakukan ekspansi bisnis.

Sikap hati-hati tersebut diambil akibat tingginya biaya pendanaan serta ketidakpastian ekonomi yang masih menyelimuti pasar.

IHSG Melemah 1,34% di Sesi Pagi, Simak Penyebabnya Hari Ini

Keputusan Bank Indonesia dalam mempertahankan suku bunga acuan dinilai belum cukup kuat untuk menopang penguatan rupiah secara signifikan.

Proyeksi pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan diperkirakan akan berada pada rentang Rp 17.880 hingga Rp 18.250 per dolar AS.

Di sisi lain, Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menyebutkan bahwa fluktuasi rupiah akan sangat bergantung pada efektivitas langkah stabilisasi Bank Indonesia.

Pasar juga menanti perkembangan arus modal asing yang masuk ke instrumen pasar keuangan domestik.

Amru menambahkan bahwa investor kini tengah mewaspadai kebijakan tarif Amerika Serikat yang dapat memicu ketidakpastian perdagangan global.

Penguatan dolar AS sebagai aset safe haven diperkirakan akan terus berlanjut di tengah sentimen negatif yang mendera pasar berkembang.

Agenda ekonomi mendatang, seperti keputusan suku bunga FOMC dan rilis data PDB kuartal II AS, akan menjadi katalis utama bagi pergerakan mata uang.

“Seluruh faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan,” terang Amru.

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran yang lebih sempit, yakni antara Rp 17.900 hingga Rp 18.050 per dolar AS.

Komentar