Larantuka – Umat Katolik mengangkut peti mati berisi patung Yesus dalam prosesi laut Jumat Agung dari Kapel Tuan Menino pada Jumat, 3 April 2026. Ritual yang diwarisi dari pengaruh Portugis selama lebih dari lima abad ini kembali digelar di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian inti rangkaian perayaan Jumat Agung. Prosesi tersebut merupakan salah satu ritual paling sakral dalam seluruh rangkaian perayaan Semana Santa di Flores Timur yang berlangsung tepat pada tengah hari.
Ribuan peziarah mengikuti prosesi ini dengan menggunakan ratusan kapal motor, sampan kecil, dan perahu nelayan yang memenuhi Selat Larantuka. Pergerakan massa di perairan ini melambangkan perjalanan penderitaan Yesus Kristus menuju penyaliban. Tradisi yang telah bertahan lebih dari lima abad tersebut menjadi bagian krusial dari peringatan Semana Santa atau Pekan Suci, sekaligus menjadi daya tarik bagi ribuan peziarah dari berbagai daerah untuk berkunjung ke wilayah Flores Timur.
Peti mati yang berisi patung Yesus disalib tersebut diarak menggunakan sampan tradisional menuju Pantai Kuceh atau dikenal sebagai Pohon Sirih. Perarakan ini menggunakan perahu tradisional khusus tanpa mesin yang biasanya memiliki ukuran panjang sekitar delapan meter. Masyarakat setempat menyebut perahu tradisional tersebut dengan nama Berok. Seluruh rangkaian ritual laut ini mencerminkan warisan sejarah dan kedalaman iman umat Katolik di Larantuka yang terus dijaga kelestariannya hingga saat ini.

