Jakarta – PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) kembali menjadi sorotan setelah harga sahamnya tertekan tajam sepanjang Oktober 2026, berbarengan dengan pengunduran diri Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo dari kursi komisaris utama. Surat pengunduran diri yang disampaikan ke emiten properti itu pada Rabu (7/10/2026) akan diproses melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sesuai aturan yang berlaku.
Direktur Utama TRIN Ishak Chandra menyampaikan, Rahayu masih menjalankan seluruh tugasnya sampai pengunduran diri tersebut resmi efektif. Dalam keterbukaan informasi pada Jumat (9/10/2026), Ishak menegaskan bahwa setelah status itu berlaku, Rahayu tidak lagi masuk dalam jajaran pengurus perseroan.
Ia juga menyebut Rahayu ikut mendukung proses transisi agar berjalan mulus sesuai ketentuan korporasi. Keputusan resmi atas langkah tersebut nantinya berada di tangan pemegang saham melalui RUPSLB.
Di pasar, tekanan pada saham TRIN terlihat makin dalam. Pada penutupan perdagangan Jumat (9/10), saham emiten tersebut ditutup di level Rp 204, turun 34 poin atau 14,29 persen dalam sehari. Dalam sebulan terakhir, kinerja sahamnya tercatat merosot 48,22 persen.
Meski melepas jabatan komisaris utama, Rahayu tidak keluar dari TRIN sepenuhnya. Ia masih tercatat sebagai pemegang saham, baik secara langsung maupun lewat kepemilikan tidak langsung.
Berdasarkan laporan bulanan registrasi efek per 30 September 2026, Rahayu memegang 178.597.672 saham TRIN, setara 3,92 persen dari modal perseroan. Namun, riset BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan kepemilikan efektifnya mencapai 7,84 persen jika dihitung bersama dua perusahaan lain.
Perbedaan angka tersebut muncul karena cakupan pelaporan yang tidak sama. Data 3,92 persen hanya mencatat saham atas nama Rahayu, sedangkan 7,84 persen mencerminkan kepemilikan efektif melalui entitas terkait.
Dengan kondisi itu, mundurnya Rahayu dari kursi komisaris utama tidak otomatis mengakhiri keterlibatannya sebagai investor di TRIN. Posisi itu tetap melekat sepanjang kepemilikannya atas saham perseroan masih ada.
Ishak mengatakan, arah pengembangan perusahaan tetap akan mengikuti visi yang dibawa Rahayu sejak bergabung. Visi tersebut mencakup pembangunan gedung dan properti yang lebih ramah lingkungan, penguatan peran perempuan di sektor properti, serta dorongan terhadap mutu dan keunggulan desain.
Menurut dia, nilai-nilai itu akan terus menjadi acuan perseroan meski Rahayu nantinya tak lagi menjabat sebagai komisaris utama. Sebelumnya, Rahayu diangkat pada 2 Desember 2025 dan disebut memiliki rencana menambah kepemilikan saham TRIN hingga 20 persen secara bertahap.
RUPSLB kemudian menjadi tahap penting untuk menetapkan keputusan final perseroan atas pengunduran diri tersebut. Seluruh proses, kata manajemen, akan ditempuh sesuai ketentuan perundang-undangan dan anggaran dasar perusahaan.


