IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Danantara Siapkan Tambahan Investasi Saham Saat Pasar Tertekan

Danantara buka peluang borong saham saat pasar tertekan

Jakarta – Badan pengelola investasi Indonesia, Danantara, membuka ruang untuk kembali masuk ke pasar saham domestik saat terjadi tekanan, asalkan penempatan dana itu dinilai tetap menjanjikan secara investasi. Di saat yang sama, lembaga ini juga berhitung dengan cermat sebelum menambah eksposur ke sektor kecerdasan buatan serta masih membahas nasib dividen yang mestinya disetor ke pemerintah.

Sejumlah petinggi Danantara menyampaikan strategi tersebut kepada Reuters, Jumat (9/10/2026). Pernyataan itu memberi gambaran lebih rinci mengenai arah pengelolaan modal lembaga yang menangani investasi publik, aset swasta, portofolio BUMN, hingga hasil penjualan komoditas nasional.

Perhatian investor kini tertuju pada langkah Danantara di tengah kekhawatiran bahwa pasar saham Indonesia masih rawan tertekan. Risiko itu bisa makin besar bila MSCI kembali menurunkan klasifikasi pasar Indonesia dalam hasil tinjauan bulan depan.

Head of Public Investment Danantara Investment Management, Rani Piputri, mengatakan pihaknya telah menempatkan sekitar US$ 3 miliar ke instrumen saham dan obligasi, baik di dalam maupun luar negeri. Hingga akhir tahun ini, Danantara juga menyiapkan tambahan investasi senilai US$ 1 miliar, tergantung kondisi pasar.

Rani menyebut Danantara tidak menutup kemungkinan membeli saham saat gejolak pasar muncul akibat sentimen eksternal yang sifatnya sementara. Menurut dia, keputusan seperti itu hanya akan diambil bila peluang investasinya dianggap menarik.

BRI Hadirkan Promo Buy 1 Get 2 The Premiere XXI

“Jika terjadi krisis di pasar dan kami menilai krisis tersebut hanya didasarkan pada sentimen eksternal yang sangat sementara, maka kami mungkin akan masuk ke pasar,” kata Rani.

Ia menjelaskan, Danantara sudah mulai membeli saham secara bertahap sejak akhir tahun lalu, termasuk pada periode aksi jual besar setelah peringatan MSCI pada Januari. Saat itu, MSCI mengingatkan kemungkinan penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market.

Apabila pembaruan klasifikasi bulan depan kembali memicu tekanan jual, Danantara masih membuka kemungkinan menambah kepemilikan saham di dalam negeri. Namun Rani menegaskan, keputusan itu tetap bergantung pada sejumlah kajian.

“Kami mungkin akan masuk. Mungkin saja, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pembelian saham yang sudah dilakukan Danantara sebelumnya didasarkan pada pertimbangan valuasi, bukan untuk menjadi penopang pasar. Menurut dia, strategi itu justru memberi keuntungan ketika suatu aset sedang tidak diminati.

Rahayu Mundur, Saham TRIN Terus Tertekan

“Kami membeli saham pada awal tahun ini karena melihat adanya nilai investasi. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Ada keuntungan ketika orang-orang tidak menyukai suatu aset, sementara kami melihat nilainya menarik, karena kami bisa mendapatkannya dengan harga yang bagus. Kemudian, ketika mereka kembali menyukainya, kami bisa menjualnya kepada mereka,” tutur Rani.

Danantara mulai beroperasi pada awal 2025 dan berada langsung di bawah Presiden Prabowo Subianto. Lembaga ini memegang mandat mengelola aset negara sekitar US$ 900 miliar yang tersebar di sekitar 1.000 perusahaan, sekaligus memaksimalkan hasil dari dividen perusahaan-perusahaan tersebut.

Rani, yang direkrut dari Wall Street untuk memimpin investasi publik Danantara, mengatakan portofolio yang dikelola saat ini terdiri dari sekitar 65 persen saham, 30 persen instrumen pendapatan tetap, dan 5 persen hedge fund. Sekitar seperempat dari total portofolio itu ditempatkan di Indonesia.

Selain di pasar domestik, Danantara juga menanamkan modal di luar negeri untuk memperluas diversifikasi dan mengejar imbal hasil yang lebih menarik.

Di sektor teknologi, terutama kecerdasan buatan, Danantara memilih bergerak lebih hati-hati. Rani mengatakan pihaknya tidak melihat AI sebagai gelembung yang akan pecah, tetapi tetap ingin masuk dengan langkah terukur karena posisi mereka relatif terlambat.

Telkomsel dan PosDigi Luncurkan Paket Sat Set Pos untuk Agen

“Kami tidak menganggap AI sebagai gelembung investasi dan tidak berpikir gelembung itu akan pecah. Namun, kami ingin berhati-hati saat mulai masuk ke sektor ini karena kami relatif terlambat,” ujarnya.

Ia menambahkan, perdebatan soal potensi gelembung AI justru bisa membuat pasar tetap waspada. “Anda mulai mendengar orang-orang membicarakan potensi gelembung investasi, dan itu bagus karena dapat menjaga pasar tetap terkendali. Jika semua orang menganggap AI sebagai investasi yang bagus, maka kami justru menghadapi masalah,” kata dia.

Sikap itu menunjukkan Danantara tetap mengejar peluang dari pertumbuhan teknologi, namun tidak mengabaikan risiko valuasi maupun perubahan sentimen pasar.

Dalam wawancara terpisah, Direktur Pelaksana Hubungan Global dan Komunikasi Danantara Investment Management, Pahala Mansury, menyebut lembaganya menargetkan imbal hasil 200 hingga 300 basis poin di atas biaya modal. Biaya modal yang menjadi acuan berada di level 5,35 persen, merujuk pada penerbitan obligasi dolar AS tenor lima tahun pada Juni lalu.

Dengan patokan tersebut, target imbal hasil Danantara berada di kisaran 7,35 persen hingga 8,35 persen. Sasaran itu menjadi salah satu tolok ukur dalam pengelolaan aset negara dan penentuan alokasi investasi di berbagai instrumen keuangan.

Di sisi lain, Danantara masih membicarakan rencana dividen yang akan diserahkan kepada pemerintah. Sebelumnya, mantan Menteri Keuangan Indonesia menyebut Danantara akan menyetorkan dividen Rp 120 triliun, atau sekitar US$ 6,7 miliar, pada tahun ini.

Namun Pahala mengatakan ada peluang dana itu tetap dikelola Danantara, tergantung hasil pembahasan dengan Menteri Keuangan yang baru, Suahasil. “Kami sedang berdiskusi dengan Menteri Keuangan yang baru, Suahasil. Sejauh ini, indikasi yang kami terima adalah kami masih dapat mengelola dividen tersebut. Namun, tentu saja kami masih harus menunggu keputusan akhir,” ujarnya.

Jika dividen itu tetap berada di bawah pengelolaan Danantara, ruang gerak lembaga tersebut dalam mengalokasikan modal bisa lebih longgar. Meski begitu, keputusan final masih menunggu sikap pemerintah.

Pahala juga menegaskan Danantara tidak memiliki mandat khusus untuk menstabilkan pasar keuangan. “Kami meyakini bahwa peran kami adalah memastikan apa pun yang kami lakukan tidak dipandang investor asing sebagai bentuk intervensi pasar, melainkan sebagai upaya untuk terus berkontribusi terhadap pendalaman pasar keuangan dan peningkatan tata kelola yang lebih baik,” katanya.

Komentar