Indramayu – Harga gabah di Kabupaten Indramayu mengalami sedikit penurunan belakangan ini. Meski demikian, harganya masih bertahan sangat tinggi, jauh melampaui patokan pemerintah, dan petani yakin kondisi ini akan berlangsung hingga akhir musim panen gadu atau kemarau.
Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, menyatakan bahwa harga gabah kering panen (GKP) kini dibeli seharga Rp 7.700 hingga Rp 7.800 per kilogram. Angka ini memang menurun dari sebelumnya yang mencapai Rp 8.000 hingga Rp 8.500 per kilogram, namun masih jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Penurunan harga ini, menurut Sutatang pada Kamis (11/9), disebabkan oleh semakin banyaknya areal tanaman padi yang telah memasuki masa panen. “Areal tanaman padi yang panen semakin banyak, jadi sesuai hukum pasar, harga akan turun. Tapi memang masih di atas harga pembelian yang ditetapkan pemerintah,” jelasnya.
Areal tanaman padi yang sudah panen di Indramayu tersebar di Kecamatan Bongas, Cikedung, dan Terisi. Luas areal yang sudah panen diperkirakan sekitar 30 persen dari total luas tanam musim kemarau tahun ini yang mencapai 125 ribu hektare.
Sutatang memprediksi puncak panen besar atau panen raya tidak akan terjadi. Hal ini karena ada sebagian areal tanaman padi yang baru memulai tanam di musim tanam kedua (gadu) tahun ini, seperti di Kecamatan Krangkeng, Sukra, Anjatan, dan Patrol, yang umur tanamannya baru sekitar 10 hingga 15 hari. Petani di daerah tersebut memang mengalami keterlambatan tanam.
Keterlambatan tanam ini disebabkan posisi geografis daerah-daerah tersebut yang berada di ujung irigasi pertanian, baik dari Waduk Jatigede maupun Waduk Jatiluhur, sehingga pasokan air datang terlambat. Sutatang memperkirakan panen akan terus terjadi secara bertahap hingga Desember 2025 mendatang.
Harga Gabah Tetap Tinggi
Meskipun semakin banyak petani yang melakukan panen, Sutatang optimistis harga gabah tidak akan turun hingga menyentuh HPP Rp 6.500 per kilogram di musim gadu ini. Keyakinan ini berkaca pada pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di mana harga gabah pada musim gadu cenderung lebih mahal dan tidak anjlok drastis seperti pada panen musim rendeng (penghujan).
Kualitas gabah yang dipanen di musim gadu cenderung lebih baik. Gabah gadu lebih kering dan lebih cepat kering saat dijemur karena kadar airnya lebih rendah dibandingkan gabah musim rendeng.
Selain itu, petani di musim gadu tidak akan menjual hasil panen sekaligus. Kondisi ini berbeda dengan panen rendeng, di mana sebagian besar petani menjual gabah untuk modal tanam kembali. “Petani baru akan menjual gabah saat butuh. Disesuaikan dengan kebutuhan mereka,” kata Sutatang.
Penyimpanan sebagian gabah hasil panen musim gadu oleh petani juga dilakukan untuk mengantisipasi musim tanam berikutnya yang masih cukup lama. Petani yang panen pada awal September, misalnya, baru akan menanam lagi sekitar November, Desember, hingga Januari 2026. Ini berarti mereka hanya akan menjual sesuai kebutuhan dan menjual lebih banyak saat akan memulai tanam lagi.
Musim Tanam Ketiga di Cirebon
Sementara itu, dari Kabupaten Cirebon, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar, juga melaporkan bahwa harga gabah masih tinggi. Sejumlah areal pertanian di Cirebon sudah panen, terutama di wilayah timur seperti Kecamatan Babakan, Ciledug, Gebang, dan Pasaleman.
Bahkan, sekitar 8 ribu hektare lahan pertanian di wilayah timur Kabupaten Cirebon kini telah memasuki musim tanam (MT) ketiga. Tingginya harga gabah kering panen (GKP) yang mencapai Rp 7.300 hingga Rp 7.500 per kilogram, serta gabah kering giling (GKG), menjadi daya tarik bagi petani untuk melakukan tanam ketiga. Kondisi ini juga ditunjang oleh curah hujan yang masih sering turun.
Tasrip mengakui bahwa musim tanam ketiga sebenarnya tidak dianjurkan bagi petani di wilayah timur Cirebon karena masalah ketersediaan air yang belum mencukupi dan potensi masalah pupuk. Namun, ia berharap musim tanam ketiga ini bisa terselamatkan mengingat hujan masih turun dan ketersediaan air di Waduk Darma masih mencukupi.
Selain di wilayah timur, areal tanaman padi di wilayah barat Cirebon, seperti Ciwaringin dan Klangenan, juga sudah mulai panen. Puncak panen padi di Kabupaten Cirebon diprediksi terjadi akhir Oktober hingga November 2025 mendatang. Tasrip pun yakin harga gabah tetap akan tinggi.


