Sukoharjo – Pemerintah didesak untuk aktif mencari investor baru guna menghidupkan kembali industri tekstil di Sukoharjo, Jawa Tengah, pasca-kepailitan PT Sri Rejeki Isman Textile (Sritex). Desakan ini datang dari Anggota Komisi IX DPR RI, Edy Wuryanto, yang menilai langkah ini krusial untuk memulihkan ekonomi daerah dan menyelesaikan hak-hak pekerja.
Edy Wuryanto menekankan bahwa solusi penjualan aset Sritex oleh kurator saja tidak cukup. Menurutnya, kehadiran investor baru dengan insentif fiskal akan menjadi kunci untuk mengaktifkan kembali pabrik dan menyerap ribuan tenaga kerja yang terdampak PHK.
Stimulus investasi strategis, seperti pembebasan pajak hingga lima tahun, kemudahan impor bahan baku dan mesin, serta jaminan penggunaan tenaga kerja lokal, diyakini dapat menarik minat investor. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan solusi ganda, yaitu menyelesaikan hak pekerja dan memulihkan ekonomi daerah yang terpukul akibat penutupan pabrik.
“Pemerintah harus hadir, bukan hanya menyalurkan bantuan, tapi juga membuka kembali harapan dan lapangan kerja,” tegas Edy.
Lebih dari 10 ribu karyawan Sritex di Sukoharjo terkena PHK setelah perusahaan tekstil terbesar di Asia Tenggara itu dinyatakan pailit pada Februari 2025. Hingga saat ini, kurator baru membayarkan upah terakhir hingga bulan Februari, sementara pesangon dan THR masih menunggu hasil penjualan aset.
Edy juga mendesak pemerintah dan kurator PT Sritex untuk segera menuntaskan pembayaran pesangon dan THR bagi ribuan pekerja yang terdampak PHK massal sejak awal Maret 2025. Ia menambahkan akan terus mengawal proses penyelesaian hak-hak eks pekerja Sritex dan mendorong pembentukan tim lintas kementerian untuk merumuskan strategi pemulihan industri tekstil nasional.


