Riau – General Manager PHR Zona Rokan Andre Wijanarko menegaskan, stabilitas ekosistem lingkungan merupakan fondasi penting bagi keandalan produksi migas nasional.
Dia mengatakan, ancaman karhutla dinilai sebagai risiko operasional nyata yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan infrastruktur energi dan keselamatan publik.
"Penurunan visibilitas, gangguan kesehatan pekerja, serta ancaman terhadap keselamatan masyarakat sekitar adalah risiko yang wajib kami mitigasi secara komprehensif sejak fase awal," ucap Andre.
"Kesiagaan personel fire brigade dan formasi armada alat berat kami di lapangan hari ini merepresentasikan ketegasan PHR dalam melindungi aset negara sekaligus mengamankan ruang hidup masyarakat," sambung Andre di hadapan ratusan personel fire brigade.
Pemerintah menegaskan tidak ada toleransi terhadap praktik pembakaran lahan. Penegakan hukum akan dilakukan secara tegas, termasuk evaluasi hingga pencabutan izin bagi pihak yang terbukti melakukan pelanggaran atau kelalaian.
Dengan meningkatnya jumlah hotspot, kerentanan gambut, serta ancaman kekeringan akibat El Nino, seluruh pihak dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat sinergi.
Upaya pengendalian karhutla tahun ini harus lebih responsif, terkoordinasi, dan konsisten agar Provinsi Riau tidak kembali mengalami bencana kabut asap yang berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.
Menteri Hanif juga memimpin rapat koordinasi kesiapsiagaan pengendalian karhutla di Provinsi Riau bersama pemerintah daerah setempat, TNI/Polri, serta unsur dunia usaha. Konsolidasi ini menekankan penguatan sinergi lintas sektor dan kesiapan operasional seluruh pihak dalam menghadapi ancaman karhutla.

