Berita

PBB: Rekonstruksi Gaza Membutuhkan Rp1.16 Kuadriliun, Lebih Berat dari Memulai dari Awal

Gaza – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan, rekonstruksi total Jalur Gaza pasca-perang akan menelan biaya fantastis mencapai 70 miliar dollar AS, atau sekitar Rp 1,16 kuadriliun. Angka ini muncul di tengah tingkat kehancuran yang masif, dengan 84 persen wilayah Gaza mengalami kerusakan, bahkan mencapai 92 persen di beberapa bagian Kota Gaza.

Ahli keamanan Timur Tengah dari King’s College London, Prof. Andreas Krieg, menegaskan upaya pembangunan ini akan jauh lebih berat daripada sekadar memulai dari nol. “Ini lebih parah dari sekadar memulai dari nol, di sini bukan memulai dari pasir, tapi dari reruntuhan,” ujarnya, dikutip dari BBC pada Rabu (15/10/2025).

Perwakilan khusus UNDP untuk Palestina, Jaco Cilliers, menyebut kerusakan ini telah menghasilkan lebih dari 60 juta ton puing yang perlu dibersihkan, berdasarkan data satelit terbaru BBC Verify. Ribuan warga telah kembali ke rumah dan lingkungan mereka yang sebagian besar hancur, menuntut upaya besar untuk memulihkan kehidupan normal.

Langkah-langkah esensial untuk membangun kembali Gaza meliputi:

1. Pembersihan Reruntuhan dan Sisa Bom
Puing-puing di Gaza tidak hanya berupa beton dan logam, tetapi juga mengandung sisa jasad manusia dan bom yang belum meledak. Prioritas utama adalah memastikan lokasi yang dibom aman dari sudut pandang keselamatan dan kemanusiaan.

Pemkab Pasaman Barat Tetapkan 7.275 Hektare jadi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

Setelah itu, puing akan disortir, dipisahkan, dan dihancurkan. Material seperti plastik dan baja akan dipilah, sementara beton dapat dihancurkan dan digunakan kembali sebagai fondasi. Namun, pembangunan skala besar akan tetap membutuhkan impor material yang masif. Mantan eksekutif JCB, Philip Bouverat, menyarankan pembangunan pelabuhan laut dalam untuk mendatangkan ribuan muatan kontainer.

2. Pemulihan Sistem Air dan Sanitasi
Ketersediaan air bersih adalah kebutuhan mendesak bagi warga Gaza. UNICEF melaporkan, lebih dari 70 persen dari 600 fasilitas air dan sanitasi rusak sejak 7 Oktober 2023. Pengolahan limbah juga krusial untuk mencegah wabah penyakit, mengingat tingginya angka diare dan risiko kolera.

Maher Najjar dari Coastal Municipalities Water Utility (CMWU) menyatakan keenam fasilitas pengolahan limbah di Gaza semuanya rusak. Perbaikan sangat terhambat oleh serangan udara dan artileri, serta kurangnya peralatan. Diperkirakan 50 juta dollar AS (sekitar Rp 829 miliar) dibutuhkan hanya untuk mengembalikan 20 persen layanan yang rusak.

3. Pembangunan Kembali Perumahan
Kota Gaza, khususnya wilayah Sheikh Radwan, hancur parah. Pusat satelit PBB mencatat, selama perang, 282.904 rumah dan apartemen di Gaza rusak atau hancur. Angka ini kemungkinan masih bertambah, mengingat 90 persen jalan di kota tersebut juga rusak.

Membangun kembali perumahan bisa memakan waktu puluhan tahun, terutama jika logistik dan material terbatas. Perencanaan yang matang menjadi kunci untuk mempercepat proses pemulihan ini.

Menteri HAM Ambil Alih Penyelidikan Tewasnya 15 Warga Sipil di Papua

4. Pengaktifan Kembali Listrik
Sistem kelistrikan Gaza sudah terbebani bahkan sebelum perang. Sejak 11 Oktober 2023, hampir seluruh Gaza mengalami pemadaman total setelah pasokan listrik dari luar diputus dan pembangkit listrik lokal kehabisan bahan bakar.

Lebih dari 80 persen aset listrik hancur atau tidak beroperasi, dengan perkiraan kerugian kerusakan mencapai 494 juta dollar AS (sekitar Rp 8,2 triliun). Pemulihan sistem ini sangat vital untuk kehidupan sehari-hari dan upaya rekonstruksi lainnya.

5. Revitalisasi Pertanian
Perkebunan seluas 4 km di Jabalia, yang kemungkinan ditanami pohon zaitun dan jeruk, turut hancur. Secara keseluruhan, 82,4 persen tanaman tahunan dan 97 persen pohon buah-buahan rusak selama perang, memicu krisis pangan serius dan kelaparan pada September 2024.

Lahan pertanian harus dibersihkan dari bom dan ranjau yang belum meledak sebelum bisa kembali ditanami. Kemampuan untuk bercocok tanam sendiri akan sangat membantu memenuhi kebutuhan pangan warga.

6. Pembangunan Sekolah
Dengan sekitar separuh penduduk Gaza berusia di bawah 18 tahun sebelum perang, pembangunan kembali sekolah menjadi prioritas utama. Banyak sekolah, yang sering digunakan sebagai tempat penampungan, mengalami kerusakan akibat serangan militer.

Pemkab Bekasi Ancam Sanksi Pidana Pengelola TPS Ilegal di Tambun Utara

Badan bantuan PBB untuk Palestina, UNRWA, yang pernah mengoperasikan 288 sekolah di Gaza, melaporkan bahwa 91,8 persen dari seluruh bangunan sekolah memerlukan rekonstruksi penuh agar dapat berfungsi kembali.

Komentar

Berita Populer

01

Pemprov DKI Jakarta Tangkap 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Lima Wilayah

02

KPK Panggil Bos Rokok HS Guna Dalami Dugaan Korupsi Cukai Bea Cukai

03

BGN Umumkan Revisi Juknis MBG 2026, Nomenklatur Personel SPPG Berubah

04

Menaker Dorong PVN 2026 Bandung Siapkan Lulusan Kerja

05

Pemkab Lima Puluh Kota Tengahi Konflik Masyarakat

06

Boyamin Saiman Kirim Banner Sindir KPK Izinkan Yaqut Cholil Qoumas Tahanan Rumah

07

Wamen KKP Ajak Pelaku Usaha Gunakan Stelina Tingkatkan Daya Saing Ekspor

08

Danantara Suntikkan Modal Rp 29 Triliun untuk Selamatkan Garuda Indonesia

Berita Terbaru










× www.domainesia.com
× www.domainesia.com