IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Berita

Nadiem Bantah Dakwaan, Siapkan Duplik Lawan Tuntutan JPU

nadiem-sebut-tuntutannya-lebih-berat-dari-teroris
Nadiem Sebut Tuntutannya Lebih Berat dari Teroris

Jakarta – Tim penasihat hukum Nadiem Makarim hari ini membacakan duplik sebagai respons akhir atas replik Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam perkara dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kemendikbudristek periode 2020-2022. Tahap ini menjadi salah satu penentu sebelum majelis hakim menjatuhkan putusan terhadap mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut.

Kuasa hukum Nadiem, Dodi S. Abdulkadir bersama Ari Yusuf Amir, menegaskan telah menyiapkan bantahan untuk meruntuhkan dakwaan jaksa sekaligus menguatkan kembali poin-poin pembelaan yang sebelumnya dituangkan dalam pledoi.

Nadiem juga dijadwalkan menyampaikan duplik secara pribadi. Dalam kesempatan itu, ia akan memaparkan kronologi pengadaan Chromebook dan membantah tudingan bahwa proyek tersebut menimbulkan kerugian negara.

Menurut Nadiem, kebijakan yang diambil justru menghasilkan penghematan anggaran dalam jumlah besar. Sebelum sidang dimulai, ia bahkan menyampaikan pernyataan keras mengenai perkara yang dihadapinya.

“Ironi terbesar kasus ini adalah saya dipenjara dan dituntut lebih besar daripada teroris untuk suatu kebijakan yang menghemat minimal Rp3,6 triliun karena memilih suatu operating system yang gratis dan menghemat anggaran,” kata Nadiem.

BK DPR RI Perkuat Telesurvei untuk Susun RUU Akurat

Pembacaan duplik berlangsung setelah jaksa sebelumnya menuntut Nadiem dengan pidana penjara 18 tahun. Jaksa menilai pendiri Gojek Indonesia itu terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dalam proyek pengadaan laptop Chromebook tersebut.

Tak hanya penjara, jaksa juga meminta hakim menjatuhkan denda Rp1 miliar dengan subsider 190 hari kurungan. Selain itu, Nadiem dituntut membayar uang pengganti Rp809,59 miliar.

Jaksa turut meminta perampasan harta senilai Rp4,87 triliun yang disebut tidak seimbang dengan penghasilan sah atau diduga berasal dari tindak pidana korupsi. Jika uang pengganti itu tak dibayar, jaksa meminta diganti dengan pidana penjara selama sembilan tahun.

Dalam tuntutannya, jaksa juga membeberkan sejumlah hal yang memberatkan terdakwa. Salah satunya, perbuatan Nadiem dinilai tidak mendukung upaya pemerintah mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih serta bebas dari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Komentar
Adang Soroti Kesiapan Polres Jakut Terapkan KUHP-KUHAP Baru

Berita Populer

01

Saham Blue Chip Tertekan, Simak Peluang Rebound Semester II 2026

02

Manufaktur Indonesia Targetkan Pertumbuhan 5,51 Persen di 2026

03

Contraflow Jakarta-Cikampek KM 55-65 Berlaku: Cek Info Terbaru!

04

PLTMG Gunungsitoli Amankan Listrik Nias, Hadapi Cuaca Ekstrem Saat Nataru

05

Profil Erling Haaland: Harapan Norwegia dan Kandidat Top Skor Piala Dunia 2026

06

Biochar Sisik Ikan Perkuat Komposit Serat Karbon, Kurangi Limbah, Tingkatkan Kekuatan

07

Petugas PPSU Jakarta Utara Menjaga Integritas Kerja di Tengah Godaan Manipulasi

08

Bencana Sumatra Rusak Parah 54 Sekolah; Siswa Belajar di Tenda

Berita Terbaru