Medan – Anggota Komisi XIII DPR RI Maruli Siahaan mengingatkan bahwa derasnya arus digitalisasi tidak boleh membuat bangsa Indonesia kehilangan pegangan moral. Menurut dia, Pancasila justru harus ditempatkan sebagai panduan utama agar kemajuan teknologi tetap memberi manfaat bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia tanpa mengikis karakter kebangsaan.
Pesan itu ia sampaikan dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila Tahun 2026 bertajuk “Pancasila sebagai Fondasi Ketahanan Bangsa: Menjawab Disintegrasi, Krisis Kepercayaan Publik, dan Tantangan Kesehatan Jiwa Generasi Muda” yang digelar di Andaliman Hall, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (6/8/2026).
“Digitalisasi adalah keniscayaan yang harus kita kuasai. Namun, jangan sampai kemajuan teknologi membuat kita kehilangan semangat gotong royong, rasa persatuan, kepedulian sosial, maupun kemampuan berpikir kritis. Pancasila harus tetap menjadi kompas moral dalam setiap langkah pembangunan bangsa,” kata Maruli dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Politikus Fraksi Partai Golkar itu menilai, nilai-nilai Pancasila tak cukup hanya dipahami sebagai hafalan atau teori. Ia menegaskan, ajaran itu harus hadir dalam tindakan sehari-hari, mulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga ruang digital.
Maruli menyebut penerapan tersebut penting untuk menjawab beragam tantangan, seperti disintegrasi bangsa, penyebaran hoaks, intoleransi, dan merosotnya kepercayaan publik.
Kegiatan yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu juga menghadirkan Kepala Biro Hukum dan Organisasi BPIP Edi Subowo, akademisi Universitas Sumatera Utara Dr. Fernanda Putra Adela, M.A., serta psikolog Rika Eliana, M.Psi. Ratusan peserta dari unsur pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, mahasiswa, tokoh masyarakat, dan relawan di Sumatera Utara turut hadir.
Dalam forum yang sama, Edi Subowo menekankan pentingnya internalisasi Pancasila sebagai pedoman etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Adapun Fernanda menyoroti kebutuhan memperkuat negara hukum, mendorong partisipasi aktif warga, serta membangun kepercayaan publik sebagai landasan ketahanan nasional.
Sementara itu, Rika Eliana mengingatkan ancaman kesehatan mental yang kian besar di kalangan generasi muda akibat tekanan media sosial dan kecemasan sosial. Ia menilai keluarga, sekolah, dan komunitas memegang peran penting dalam membentuk ketahanan mental anak muda di era digital.
Maruli sendiri menyatakan akan terus mendorong sinergi antara DPR RI, BPIP, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan organisasi masyarakat dalam memperkuat pembinaan ideologi Pancasila sekaligus pembangunan karakter bangsa secara berkelanjutan.
“Bangsa yang besar bukan hanya yang maju teknologinya, tetapi yang mampu menjaga nilai, karakter, dan persatuannya. Mari kita jadikan Pancasila sebagai pedoman dalam berpikir, bersikap, dan bertindak demi Indonesia yang maju, berkeadilan, dan bermartabat,” ujarnya.


