Berita

Mantan Perwira AS: Netanyahu Terjepit, Israel Terancam Kalah

mantan-kepala-staf-menlu-as-sebut-israel-sudah-di-ambang-kekalahan
Mantan Kepala Staf Menlu AS Sebut Israel sudah di Ambang Kekalahan

Jakarta – Pengamat militer dan mantan perwira Angkatan Darat Amerika Serikat, Lawrence, menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini berada dalam tekanan ganda yang kian menyesakkan, baik dari dalam negeri maupun dari dinamika perang di kawasan. Ia menyebut posisi Netanyahu sulit karena di satu sisi menghadapi masalah politik internal, sementara di sisi lain Israel dinilai tidak mampu meraih kemenangan yang meyakinkan dalam konflik yang sedang berlangsung.

Dalam pernyataannya di kanal YouTube Glenn Diesen Indonesia pada Selasa malam, 9 Juni 2026, Lawrence kembali mengutip pandangan seorang mantan perdana menteri Israel yang pernah menyatakan bahwa tekanan militer maupun upaya menghancurkan Lebanon Selatan tidak akan mampu menjatuhkan Hezbollah.

“Benar juga dia mantan Perdana Menteri. Tapi sekarang Benjamin Netanyahu terjepit, benar-benar di antara dua tekanan besar,” ujar Lawrence.

Ia juga menyinggung peran Donald Trump yang menurutnya gagal menjamin keamanan Israel. Lawrence bahkan mengatakan apa pun yang dilakukan Israel, hasil akhirnya tetap merugikan pihak Tel Aviv.

“Jadi apapun yang dia (Israel) lakukan, dia tetap kalah,” ucapnya.

Kekuasaan Tumbang Saat Internal Runtuh dan Pengaruh Asing Menguat

Lawrence kemudian menyoroti situasi domestik Israel yang menurut dia tidak stabil. Netanyahu, kata dia, sedang diterpa berbagai persoalan politik internal yang membuat posisinya semakin rapuh.

Di luar itu, ia menilai pola penjajahan Israel terhadap Palestina selama ini berjalan tanpa mengindahkan hukum internasional. Praktik tersebut, lanjutnya, turut memicu derasnya tekanan dari komunitas internasional terhadap Israel.

Lawrence menggambarkan kondisi itu sebagai model yang bekerja seperti jaringan mafia. Ia mencontohkan lonjakan harga kebutuhan pokok bagi warga Palestina, termasuk harga satu lusin telur yang disebut mencapai sekitar 250 dolar AS. Menurut dia, situasi ini justru menguntungkan banyak pihak lain, termasuk sebagian warga Mesir.

“Dan semua ini terjadi di pinggiran saja. Kita melihat ke Hezbollah, kita melihat ke Dahia, kita melihat ke Beirut, kita melihat apa yang dilakukan Israel di Lebanon yang jelas tidak bisa dibenarkan,” kata Lawrence.

Terkait perang melawan Iran, Lawrence menilai Israel sudah berada di jalur kekalahan. Ia menyebut Iran hanya perlu tidak kalah untuk bisa dianggap menang, sedangkan Amerika Serikat dan Israel justru dituntut meraih kemenangan besar, sesuatu yang menurutnya tidak terjadi.

Tanah Datar Perkuat Mitigasi Kecelakaan di Padang Panjang-Bukittinggi

“Yang bisa dirangkum dalam judul berita highlights yang dulu sering saya kutip, Iran hanya perlu tidak kalah untuk menang. Sementara Amerika Serikat dan Israel, dan ini belum menyangkut masa depan Netanyahu, entah dipenjara atau sebagai pahlawan, (dia) harus menang dengan cara yang luar biasa dan itu tidak terjadi. Sebenarnya sudah kalah,” tuturnya.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

05

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

06

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

Berita Terbaru