Jakarta, Gonesia.com – Harga emas dunia diprediksi akan terus mempertahankan tren penguatan sepanjang pekan ini di tengah eskalasi geopolitik global dan pergeseran kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, sebagaimana dilansir dari Katadata, menyatakan bahwa logam mulia tersebut memiliki potensi kenaikan harga yang signifikan setelah ditutup pada level US$ 4.604 per troy ons pada akhir pekan lalu.
Ia memetakan bahwa level US$ 4.520 per troy ons akan berfungsi sebagai area support awal jika terjadi koreksi harga di awal pekan ini.
Jika tekanan jual berlanjut, ia menambahkan bahwa titik support berikutnya diperkirakan berada di kisaran US$ 4.437 per troy ons.
Sebaliknya, penguatan harga emas berpotensi menembus level resistance pertama di angka US$ 4.676 per troy ons.
Dalam pandangannya, harga emas bahkan memiliki ruang untuk menguji level tertinggi di angka US$ 4.766 per troy ons dalam kurun waktu satu pekan ke depan.
“Dalam pekan depan harga emas dunia kemungkinan besar akan ditransaksikan di US$4.437 per troy ons, kemudian resistance-nya itu adalah US$4.766 per troy ons,” ujarnya.
Ketegangan di Timur Tengah menjadi katalis utama yang menjaga minat investor terhadap aset safe haven seperti emas tetap tinggi.
Pasar saat ini tengah memantau rencana pemerintah Amerika Serikat yang akan mengumumkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran pada Senin (24/8).
Ia menjelaskan bahwa ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas sanksi tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.
Selain itu, konflik yang melibatkan Israel, Suriah, dan Turki menambah lapisan ketidakpastian yang memperumit stabilitas kawasan.
Dinamika di Eropa Timur terkait perang Rusia dan Ukraina juga disebutnya masih menjadi faktor pendorong utama bagi investor untuk mengamankan aset di instrumen emas.
Di sisi kebijakan fiskal, ia menyoroti langkah Departemen Keuangan Amerika Serikat yang menggandakan program buyback surat utang pemerintah dari US$ 2 miliar menjadi US$ 4 miliar per operasi.
Langkah tersebut dinilai efektif menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang, yang pada akhirnya memicu perpindahan modal investor ke emas.
“Ini yang membuat yield obligasi Amerika tenor 10 sampai 30 tahun ini mengalami penurunan sehingga banyak investor yang mengalihkan dananya ke emas sebagai safe haven,” lanjutnya.
Terkait kebijakan moneter The Fed, ia melihat adanya ketidakpastian yang tetap memberikan ruang bagi emas untuk menjadi alternatif investasi yang menarik.
Meskipun terdapat ekspektasi suku bunga tidak akan naik, inflasi yang masih di atas target membuat bank sentral AS tetap mempertahankan sikap waspada.
Sektor perbankan sentral global pun diprediksi masih akan terus memborong emas sepanjang kuartal ketiga tahun 2026.
Data semester pertama menunjukkan volume permintaan emas global naik 2% secara tahunan menjadi 2.522 ton dengan nilai mencapai US$ 380 miliar.
Ia optimistis tren pembelian oleh bank sentral akan terus berlanjut hingga akhir September mendatang.
“Di semester pertama harga emas mengalami kenaikan yang cukup signifikan, kemungkinan besar di kuartal ketiga, Juli, Agustus, September, ini kalau nanti sudah ada kemungkinan besar akan tren ada kenaikan untuk bank sentral dalam melakukan pembelian terhadap logam mulia,” tutupnya.


