Jakarta, Gonesia.com – PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) kini menempuh jalur transformasi radikal dengan memangkas porsi bisnis makanan guna memusatkan seluruh sumber daya pada kategori perawatan tubuh dan rumah tangga (Home and Personal Care/HPC).
Langkah strategis ini dilakukan di tengah tantangan berat yang menekan kinerja perseroan, di mana harga saham UNVR di Bursa Efek Indonesia tercatat telah terkoreksi hingga 55,79% dalam lima tahun terakhir hingga perdagangan Senin (24/8) pagi.
Data perdagangan menunjukkan harga saham perseroan merosot dari level Rp 4.060 ke posisi Rp 1.800, dengan penurunan year to date sebesar 30,77% sejak awal tahun 2026.
Penurunan ini mencerminkan tekanan pertumbuhan yang dialami perusahaan pascapandemi, berbeda dengan tren yang sempat terjadi di tingkat global.
Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai persoalan UNVR tidak lagi dapat dijelaskan hanya dengan siklus daya beli, tetapi juga fundamental perusahaan.
“Penurunan kinerja UNVR merupakan kombinasi kedua faktor tersebut, namun porsi perubahan fundamental konsumen dan lanskap industri jauh lebih dominan ketimbang sekadar masalah siklus daya beli,” ujar Hans kepada Katadata, pekan lalu.
Ia menambahkan, pergeseran perilaku konsumen Indonesia yang kini lebih brand-agnostic serta dominasi platform e-commerce telah memberi ruang besar bagi merek-merek lokal untuk tumbuh lebih agresif.
Senada dengan hal tersebut, Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa masalah yang dihadapi perusahaan bukan sekadar siklus, melainkan pergeseran struktural pada lanskap konsumen.
Ia menyebut kekuatan merek dan jaringan distribusi memang masih menjadi keunggulan kompetitif, namun tantangan utamanya adalah mengembalikan pertumbuhan volume tanpa mengorbankan margin.
Pengamat pasar modal lainnya, Wahyu Laksono, menyoroti fenomena downtrading yang dilakukan konsumen kelas menengah-bawah ke produk lebih murah, sementara konsumen menengah-atas beralih ke produk niche.
“Merek lokal memiliki siklus peluncuran produk yang jauh lebih cepat, relevan dengan tren lokal, dan agresif memanfaatkan pemasaran digital berbasis komunitas serta KOL/influencer,” ujarnya.
Restrukturisasi global Unilever kini merambah ke Indonesia dengan pengalihan bisnis es krim kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia, serta pelepasan merek SariWangi kepada PT Savoria Kreasi Rasa.
Rencana divestasi pun dikabarkan bakal berlanjut pada merek kecap Bango dan bumbu penyedap Royco guna memperkuat fokus pada sektor HPC yang memiliki margin lebih tinggi.
Unilever Global bahkan telah menyepakati penggabungan bisnis makanan dengan perusahaan asal Amerika Serikat, McCormick, yang ditargetkan rampung pada pertengahan 2027.
Corporate Secretary Unilever Indonesia, Mario Abdi Amrillah, menegaskan bahwa hingga transaksi tersebut selesai, seluruh kegiatan bisnis akan tetap berjalan seperti biasa.
“Hingga transaksi tersebut selesai, Unilever dan McCormick akan terus beroperasi secara independen, dan seluruh kegiatan bisnis akan tetap berjalan seperti biasa bagi kedua perusahaan,” ungkap Mario melalui email kepada Katadata, Rabu (19/8).
Meskipun efisiensi portofolio menjadi langkah krusial, para analis memperingatkan bahwa divestasi bukanlah jaminan pemulihan pertumbuhan jangka panjang.
Keberhasilan transformasi ini akan sangat bergantung pada kemampuan bisnis yang tersisa untuk merebut kembali pangsa pasar di tengah persaingan produk lokal yang semakin ketat.


