Jakarta, Gonesia.com – PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) baru saja menuntaskan kewajiban pembayaran pokok atas dua surat utang yang jatuh tempo dengan total nilai mencapai Rp2,49 triliun.
Langkah strategis ini dilakukan perusahaan untuk menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika pasar modal yang menuntut kedisiplinan finansial tinggi.
Pembayaran tersebut disalurkan melalui PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Corporate Secretary INKP, Heri Santoso, menyatakan bahwa pelunasan tersebut mencakup instrumen obligasi dan sukuk mudharabah.
Ia merinci, “Perseroan melalui KSEI telah melakukan pelunasan pokok Obligasi Berkelanjutan IV Indah Kiat Pulp & Paper Tahap II Tahun 2023 Seri B sejumlah Rp1.609.865.000.000 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Indah Kiat Pulp & Paper Tahap II Tahun 2023 Seri B sejumlah Rp878.975.000.000,” dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kontan.
Nilai pembayaran untuk obligasi tersebut tercatat sekitar Rp1,61 triliun.
Sementara itu, pembayaran pokok untuk Sukuk Mudharabah tercatat sebesar Rp878,98 miliar.
Penyelesaian kewajiban ini menjadi sinyal positif bagi kesehatan arus kas perusahaan di tengah tantangan ekonomi global.
Kendati telah melunasi utang lama, perusahaan kini tengah menyiapkan langkah pendanaan baru.
INKP berencana menghimpun dana melalui penerbitan obligasi dan sukuk berkelanjutan dalam rupiah dengan total nilai Rp2,76 triliun.
Selain instrumen rupiah, perusahaan juga membidik pendanaan melalui obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat senilai US$9,55 juta.
Penerbitan obligasi rupiah akan dibagi menjadi dua seri, yakni Seri A senilai Rp1,38 triliun dengan bunga tetap 10% per tahun.
Seri B sebesar Rp214,17 miliar juga ditawarkan dengan bunga tetap sebesar 10,5% per tahun.
Masing-masing instrumen tersebut memiliki masa jatuh tempo pada 3 September 2029 dan 3 September 2031.
Di sisi lain, sukuk mudharabah yang akan diterbitkan bernilai total Rp1,17 triliun.
Instrumen ini terdiri dari Seri A sebesar Rp443,03 miliar dan Seri B sebesar Rp727,19 miliar.
Berbeda dengan obligasi, imbal hasil untuk kedua seri sukuk tersebut dirancang dengan skema mengambang.
Untuk obligasi dolar AS, perusahaan membagi penawaran ke dalam Seri A senilai US$8,13 juta dengan bunga 6,75% per tahun.
Seri B obligasi dolar AS sebesar US$1,42 juta ditawarkan dengan tingkat bunga 7,25% per tahun.
Masa penawaran umum surat utang baru ini dijadwalkan berlangsung pada 28 hingga 31 Agustus 2026.
Distribusi surat utang secara elektronik direncanakan akan dilakukan pada 3 September 2026.
Selanjutnya, pencatatan perdana di Bursa Efek Indonesia dijadwalkan pada 4 September 2026.
Langkah ini menunjukkan upaya manajemen dalam melakukan refinancing untuk mendukung ekspansi bisnis berkelanjutan.
Stabilitas performa INKP di pasar obligasi menjadi tolok ukur penting bagi investor dalam menilai prospek perusahaan ke depan.


