JAKARTA, Gonesia.com – Lotte Chemical Corporation kini tengah melakukan peninjauan mendalam terhadap portofolio aset petrokimia mereka di Indonesia dan Malaysia sebagai upaya merespons tekanan finansial yang berkepanjangan.
Langkah strategis ini mencuat di tengah spekulasi pasar mengenai rencana divestasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan untuk memperbaiki kondisi neraca keuangan mereka.
Manajemen Lotte Chemical Titan Holding Berhad akhirnya memberikan klarifikasi resmi melalui keterbukaan informasi pada 19 Agustus 2026.
Perusahaan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan final yang diambil terkait rencana penjualan aset di luar negeri.
“Setelah melakukan penelusuran, kami memahami bahwa LCC sedang mempertimbangkan berbagai langkah strategis terkait perusahaan, tanpa membuat keputusan apa pun sejauh ini,” tulis pihak manajemen dalam keterbukaan informasi yang dikutip Kamis (27/8).
Pernyataan ini sekaligus merespons laporan dari media Korea Economic Daily yang menyebutkan bahwa induk usaha telah berkomunikasi dengan kreditur mengenai rencana pelepasan aset kimia dasar.
Langkah konsolidasi ini diduga dipicu oleh akumulasi kerugian yang terus menekan performa keuangan Lotte Chemical dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satu fokus utama kajian tersebut adalah Lotte Chemical Titan di Malaysia yang telah mencatatkan kerugian selama 17 kuartal berturut-turut.
Tekanan profitabilitas diperparah oleh menyempitnya margin produk petrokimia dasar di tengah membanjirnya pasokan di pasar Asia Tenggara.
Aset di Indonesia, yakni Lotte Chemical Indonesia (LCI), juga tidak luput dari perhatian dalam kajian strategis tersebut.
Kompleks petrokimia terintegrasi di Cilegon, Banten, yang menelan investasi sekitar 5,7 triliun won ini baru beroperasi secara komersial pada Mei 2025.
Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi etilena mencapai 1 juta ton per tahun serta propilena sebesar 520.000 ton per tahun.
Namun, proyek strategis di Indonesia ini masih menghadapi tantangan beban keuangan yang cukup berat pasca-operasional.
Data menunjukkan LCI bahkan sempat menerima suntikan pinjaman sebesar US$ 790 juta dari perusahaan induk pada Juni 2026.
Opsi strategis yang berkembang di pasar mencakup potensi masuknya investor baru ke dalam struktur kepemilikan LCI.
Lembaga investasi Danantara dikabarkan tengah dijajaki sebagai investor minoritas dengan potensi kepemilikan saham antara 25% hingga 30%.
Nilai transaksi untuk masuknya investor tersebut diperkirakan menyentuh angka US$ 1,7 miliar.
Hingga saat ini, struktur kepemilikan LCI masih didominasi oleh Lotte Chemical Titan sebesar 51%, Lotte Chemical 24%, dan konsorsium Korea sebesar 25%.
Terkait wacana tersebut, perusahaan menekankan bahwa pembicaraan yang melibatkan pihak eksternal belum mencapai kesepakatan yang mengikat secara hukum.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah sebelumnya sempat menghambat proses evaluasi aset di kawasan Asia, termasuk Indonesia dan Malaysia.
Kini, perusahaan memilih untuk bersikap hati-hati dalam menentukan langkah demi menjaga keberlangsungan operasional jangka panjang.
Pasar saat ini masih menunggu langkah konkret dari Lotte Chemical dalam menyeimbangkan portofolio aset global mereka di tengah kondisi industri petrokimia yang penuh tantangan.


