Jakarta – Pasar saham global tengah diadang ketidakpastian, dipicu oleh data pelemahan pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Kondisi ini kuat mendorong bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk memulai pemangkasan suku bunga acuan (Fed funds rate) pada September 2025, sebuah langkah yang berdampak signifikan pada bursa saham dunia, termasuk Indonesia.
Analis pasar modal, Hans Kwee, memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga dua hingga tiga kali sepanjang 2025. Pelemahan pasar tenaga kerja ini mengindikasikan potensi kontraksi ekonomi AS secara menyeluruh, yang kemudian menekan indeks utama Wall Street dan secara tidak langsung berdampak negatif pada pasar saham global.
Situasi ini tentu bukan kabar baik bagi bursa saham negara lain, termasuk Indonesia. Selain faktor suku bunga, inflasi yang mengkhawatirkan, pelebaran defisit fiskal, serta ketidakpastian politik di negara-negara maju seperti AS, Inggris, Prancis, dan Jepang juga patut dicermati.
Faktor-faktor ini berpotensi memicu kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang mereka, sebuah fenomena yang bisa menular ke negara berkembang. Kondisi ini berisiko menaikkan imbal hasil obligasi jangka panjang, menekan nilai tukar mata uang, dan memicu *capital outflow* dari negara-negara berkembang.
Namun, secercah kabar baik muncul dari sektor perdagangan internasional, khususnya bagi negara-negara di Asia. Hans Kwee mencatat bahwa ekspor negara-negara Asia tidak terlalu terdampak signifikan oleh kebijakan tarif resiprokal AS yang diterapkan pada era pemerintahan Presiden Donald Trump, menandakan fondasi ekonomi kawasan yang relatif kokoh.
Di kancah domestik, sentimen positif mulai kembali ke pasar. Gejolak politik yang sempat memanas akibat ketidakpuasan masyarakat berhasil diredam oleh respons pemerintah yang dinilai sigap.
Adanya tuntutan yang jelas, penerimaan sebagian tuntutan pendemo oleh Presiden Prabowo, serta dimulainya dialog dengan pembuat kebijakan telah menciptakan sentimen positif.
Dalam jangka pendek, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang menguat di tengah fase konsolidasi. Analis memproyeksikan level *support* IHSG di kisaran 7.547 hingga 7.771, dengan level *resistance* pada 7.911 hingga 8.022.
Bursa Efek Indonesia (BEI) melaporkan pertumbuhan signifikan jumlah investor pasar modal Tanah Air. Hingga akhir Agustus 2025, jumlah *Single Investor Identification* (SID) telah melampaui 18 juta, tepatnya mencapai 18.012.665 SID. Angka ini menunjukkan penambahan 3.141.026 SID sepanjang tahun ini.
Data perdagangan saham periode 1-4 September 2025 menunjukkan pergerakan bervariasi. IHSG tercatat naik tipis 0,47 persen secara mingguan, ditutup pada level 7.867,348, menguat dari posisi 7.830,493 pada akhir pekan sebelumnya.
Kapitalisasi pasar BEI juga meningkat 0,20 persen secara *week-to-week* (WtW) menjadi Rp 14.211 triliun. Namun, di sisi lain, rata-rata frekuensi transaksi harian menurun 9,88 persen menjadi 2,08 juta kali transaksi dibandingkan pekan sebelumnya.
Penurunan turut melanda rata-rata volume transaksi harian sebesar 21,09 persen secara mingguan menjadi 37,24 miliar lembar saham. Rata-rata nilai transaksi harian juga melemah 28,43 persen, tercatat Rp 18,05 triliun dari pekan sebelumnya.
Aktivitas investor asing menunjukkan penjualan bersih (*net sell*) sebesar Rp 305,18 miliar pada hari terakhir perdagangan pekan lalu. Secara kumulatif, sepanjang 2025, investor asing telah mencatat *net sell* senilai Rp 55,13 triliun.


