Jakarta, Gonesia.com – Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak mentah dunia pada perdagangan awal pekan ini, Senin (31/8).
Kenaikan harga dipicu oleh aksi militer Amerika Serikat yang menyerang fasilitas peluncur roket milik Iran di jalur perairan strategis tersebut.
Harga minyak Brent tercatat naik 1,8 persen menjadi US$ 89,72 per barel pada pukul 07.34 waktu Singapura.
Kontrak minyak tersebut bahkan sempat mencatatkan lonjakan tajam hingga 2,9 persen saat perdagangan baru saja dibuka.
Di sisi lain, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan sebesar 1,7 persen ke level US$ 84,81 per barel.
Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengonfirmasi bahwa militer mereka menyasar peluncur roket Iran yang diduga bersiap menebar ranjau di jalur perairan vital itu.
Ia menyebut bahwa operasi militer ini sekaligus mengakhiri periode relatif tenang yang sempat terjaga selama beberapa pekan terakhir.
Laporan dari Fox News mengungkapkan bahwa pihak AS mengklaim Iran sempat melakukan serangan terhadap pasukan mereka di Yordania, meskipun sejumlah rudal dikabarkan berhasil dicegat.
Sejauh ini, tidak ada kerusakan signifikan yang dilaporkan akibat rangkaian insiden tersebut.
Kepala Riset Pepperstone Group Ltd, Chris Weston, dikutip dari Bloomberg mengatakan, “Serangan langsung terhadap lokasi peluncuran Iran tidak banyak membantu mendorong perundingan, begitu pula jika Iran melakukan serangan balasan ke Yordania.”
Sentimen pasar minyak sepanjang bulan ini memang cenderung fluktuatif dengan rentang pergerakan harga Brent mencapai hampir US$ 17 per barel.
Ketidakpastian ini berakar dari upaya diplomatik untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran yang hingga kini masih menemui jalan buntu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya menyatakan komitmennya untuk menekan Teheran dengan memperketat isolasi serta melumpuhkan perekonomian negara tersebut.
Kendati situasi memanas, data pedagang menunjukkan aliran minyak mentah dunia sebesar 6 hingga 8 juta barel per hari masih tetap melintasi Selat Hormuz.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan bahwa lalu lintas kapal di sepanjang rute tersebut tetap berlangsung meski dalam kapasitas terbatas dengan kewajiban pembayaran biaya lintas.
Panglima tertinggi AS untuk kawasan Timur Tengah mengklaim bahwa pasukan mereka telah berhasil membersihkan ranjau-ranjau Iran dari Selat Hormuz.
Ia memastikan jalur pelayaran di kawasan yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global tersebut tetap terbuka untuk aktivitas ekonomi.
Di luar kawasan Timur Tengah, Washington kini mengarahkan perhatiannya pada upaya penguasaan cadangan minyak Venezuela.
Pemerintah AS berencana mengambil kendali atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela melalui konsesi selama 100 tahun pada 17 ladang minyak.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa cadangan minyak tersebut akan digunakan untuk mengisi kembali cadangan minyak darurat nasional yang telah menipis.
Dampak dari konflik AS-Iran dan perang Rusia-Ukraina telah memicu kenaikan harga produk minyak bumi, terutama solar, di pasar global.
Trump dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan penyulingan minyak pada Selasa esok untuk membahas strategi penurunan harga bahan bakar.
Aktivitas perdagangan kontrak berjangka Brent diperkirakan berlangsung lebih sepi dari biasanya pada sesi Senin ini.
Kondisi tersebut terjadi karena sejumlah wilayah, termasuk Inggris, sedang merayakan hari libur nasional.


