IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Dolar AS Melemah Sepekan Meski Ketegangan Timur Tengah Dorong Permintaan Safe Haven

Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat di pasar keuangan global.
Nilai tukar dolar AS melemah sepanjang pekan meski sempat terdorong oleh permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik.

NEW YORK, Gonesia.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat menunjukkan stabilitas pada penutupan perdagangan Jumat, meskipun secara akumulatif mata uang tersebut mencatatkan pelemahan sepanjang pekan ini.

Dinamika pasar dipengaruhi oleh pergeseran ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve setelah data inflasi AS mengindikasikan tekanan harga yang mulai terkendali.

Di balik tren pelemahan tersebut, dolar AS mendapatkan dukungan dari meningkatnya eskalasi konflik antara Washington dan Teheran yang memicu permintaan terhadap aset safe haven.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah memuncak pasca aksi saling serang selama sepekan terakhir yang mengganggu arus lalu lintas di Selat Hormuz.

Gangguan jalur distribusi energi ini menjadi katalis utama melonjaknya harga minyak dunia hingga mendekati level tertinggi dalam satu bulan terakhir.

Prospek Investasi Obligasi FR Semester II 2026 dan Strategi Cuan Investor

Sentimen ketidakpastian geopolitik ini mendorong investor untuk kembali beralih ke aset yang dinilai lebih aman sebagai bentuk mitigasi risiko.

“Koreksi pasar saham global dan gangguan di Selat Hormuz memicu aksi mencari aset aman sehingga dolar berhasil memangkas sebagian pelemahannya pekan ini,” ujar Kepala Strategi Pasar Global Brown Brothers Harriman, Elias Haddad, sebagaimana dikutip dari Kontan.

Indeks dolar AS, yang mencerminkan kekuatan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau berada di level 100,76 atau terkoreksi sekitar 0,2 persen secara mingguan.

Mata uang Euro tercatat stabil di angka US$ 1,1436 dan masih mampu membukukan penguatan mingguan sebesar 0,2 persen.

Poundsterling mengalami sedikit tekanan dengan penurunan 0,2 persen menjadi US$ 1,3455 pada penutupan perdagangan.

Harga Emas Antam Naik Rp 8.000 Menjadi Rp 2.614.000 per Gram

Kendati demikian, poundsterling tetap mencatatkan kenaikan mingguan selama tiga pekan berturut-turut berkat prospek ekonomi dan stabilitas politik Inggris yang kian membaik.

Dolar Australia juga mencatatkan tren positif dengan kenaikan mingguan untuk ketiga kalinya, meskipun pada penutupan akhir pekan sempat terkoreksi 0,23 persen ke level US$ 0,6980.

Penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya sentimen penghindaran risiko di kalangan pelaku pasar global.

Di kawasan Asia, yen Jepang tetap berada di kisaran 162,44 per dolar AS, level yang mendekati posisi terlemahnya dalam kurun waktu hampir 40 tahun terakhir.

Pasar saat ini terus memantau potensi intervensi pemerintah Jepang setelah Menteri Keuangan Satsuki Katayama menekankan kesiapan otoritas untuk mengambil langkah tegas demi menstabilkan nilai tukar mata uang tersebut.

Investor Asing Borong Saham Blue Chip, UBS Sekuritas Pimpin Transaksi BBCA

Data ekonomi domestik AS menunjukkan kenaikan tipis pada penjualan ritel Juni, yang didorong oleh lonjakan aktivitas belanja daring.

Kenaikan tersebut terjadi meski nilai penjualan di stasiun pengisian bahan bakar umum tertekan akibat penurunan harga bensin.

Ketahanan ekonomi AS juga didukung oleh pasar tenaga kerja yang tetap stabil di tengah tantangan global saat ini.

Berdasarkan data inflasi yang melandai, pelaku pasar kini memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan bulan ini.

Peluang kenaikan suku bunga pada Juli tercatat turun menjadi sekitar 14 persen, dibandingkan posisi 25 persen pada pekan sebelumnya.

Meskipun demikian, pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 30 basis poin hingga akhir tahun 2026.

Komentar