JAKARTA, Gonesia.com – Investor ritel disarankan untuk menerapkan strategi buy and hold pada obligasi negara seri Fixed Rate (FR) sepanjang semester II-2026 sebagai langkah mitigasi terhadap volatilitas pasar keuangan global dan domestik.
Pendekatan ini dianggap paling relevan bagi mereka yang berorientasi pada target investasi jangka menengah hingga panjang di tengah ketidakpastian arah kebijakan suku bunga.
Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management, Domingus Sinarta Ginting, menekankan pentingnya menjaga kepemilikan aset hingga masa jatuh tempo guna mengamankan arus kas yang stabil.
“Dengan strategi buy and hold, investor tetap dapat menikmati kupon yang kompetitif hingga jatuh tempo tanpa terlalu terpengaruh volatilitas harga harian,” ujar Domingus kepada Kontan, Jumat (17/7/2026).
Ia menambahkan bahwa potensi Bank Indonesia untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan harga obligasi di pasar sekunder.
Kondisi kebijakan moneter yang ketat tersebut secara otomatis akan menekan harga obligasi dan membatasi peluang investor untuk meraih capital gain dalam jangka waktu pendek.
Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) justru menciptakan momentum emas bagi investor untuk mengunci imbal hasil yang lebih menarik.
Dalam pemilihan aset, ia menyarankan pelaku pasar untuk lebih mengutamakan indikator yield to maturity (YTM) dibandingkan sekadar melihat besaran nilai kupon yang ditawarkan.
Menurutnya, obligasi yang memiliki tingkat YTM di kisaran 7,0% hingga 7,3% atau lebih tinggi sudah sangat layak untuk dimasukkan ke dalam portofolio investasi saat ini.
Ia juga merekomendasikan pemilihan seri obligasi dengan tenor pendek hingga menengah, yakni dalam rentang waktu tiga hingga tujuh tahun.
Pilihan durasi tersebut dinilai lebih tangguh dalam merespons risiko kenaikan suku bunga dibandingkan obligasi dengan tenor panjang.
Selain itu, strategi pembelian secara bertahap atau staggered buying menjadi kunci penting bagi investor untuk merata-ratakan biaya perolehan di tengah fluktuasi pasar.
Langkah ini memungkinkan investor untuk tetap masuk ke pasar meskipun tren yield masih menunjukkan potensi kenaikan lebih lanjut ke depannya.
Ia mengingatkan bahwa investor harus tetap menjaga likuiditas dengan menempatkan sebagian dana pada instrumen pasar uang guna menjaga fleksibilitas keuangan.
Penyebaran aset ke dalam instrumen pasar uang juga berfungsi sebagai bantalan jika terjadi kebutuhan likuiditas mendadak di luar rencana investasi utama.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa risiko utama yang harus diwaspadai investor adalah interest rate risk yang berdampak pada penurunan harga obligasi di pasar sekunder.
Namun, risiko harga tersebut tidak akan berdampak pada nilai pokok investasi maupun pembayaran kupon bagi investor yang berkomitmen memegang surat utang hingga jatuh tempo.
Secara keseluruhan, obligasi FR tetap menjadi pilihan diversifikasi yang solid karena didukung oleh tingkat risiko kredit pemerintah yang sangat rendah dibandingkan instrumen sektor swasta.
Ketika siklus suku bunga nantinya mulai melandai, ia menyarankan investor untuk mulai mengalihkan porsi investasi ke obligasi tenor panjang guna memaksimalkan potensi capital gain.


