Jakarta – Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan terbaru, setelah investor dibayangi kekhawatiran memanasnya kembali konflik Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga energi serta inflasi global. Pasar juga menanti arah pembahasan hubungan dagang Amerika Serikat dan China dalam pertemuan Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping.
Di Korea Selatan, tekanan paling besar terlihat pada indeks Kospi yang turun sekitar 2,15 persen. Indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq juga terkoreksi 0,74 persen.
Pergerakan serupa terjadi di Jepang. Nikkei 225 melemah sekitar 0,52 persen, meski Topix masih mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,28 persen. Di Australia, indeks acuan ASX 200 ikut turun 0,56 persen.
Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di posisi 26.264, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di 26.347,91. Di pasar daratan China, Shanghai Composite tercatat turun tipis 0,13 persen.
Sentimen negatif pasar muncul setelah Donald Trump menyebut gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung sebulan berada dalam kondisi “sangat lemah”. Pernyataan itu disampaikan setelah Washington disebut menolak proposal balasan dari Teheran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth kemudian memperkuat sikap tersebut. Ia mengatakan Trump tidak membutuhkan persetujuan Kongres untuk melanjutkan serangan terhadap Iran. Situasi ini memperbesar kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan dan potensi tekanan pada inflasi.
Di sisi lain, pelaku pasar Asia juga menaruh perhatian pada pertemuan Trump dan Xi Jinping. Harapannya, kedua pemimpin dapat membahas isu perdagangan yang selama ini menjadi salah satu fokus utama investor global.

