Medan – Bantuan 30 ton beras dari NGO Bulan Sabit Merah Uni Emirat Arab (UEA) yang sempat menuai polemik, akhirnya didistribusikan kepada masyarakat terdampak banjir di Sumatera Utara dan Aceh. Sebelumnya, bantuan ini sempat dikembalikan oleh Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, atas instruksi pemerintah pusat.
Kali ini, Muhammadiyah Sumatera Utara mendistribusikan 25 ton beras, sementara 5 ton lainnya disalurkan melalui Muhammadiyah Aceh. Penyerahan bantuan dan pemberangkatan dilakukan di Gedung Dakwah Muhammadiyah Medan, pada hari Senin.
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Hasyimsyah Nasution, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan donasi melalui Muhammadiyah.
Muhammadiyah Sumatera Utara melakukan upaya tanggap bencana melalui tiga fase. Pertama, tanggap darurat yang berlangsung sejak 27 November 2025 hingga 5 Januari 2026.
Kemudian, diikuti dengan program transisi darurat ke pemulihan yang akan berlangsung sejak 6 Januari hingga 31 Januari 2026. Fase ketiga adalah program rehabilitasi dan rekonstruksi pada bulan Februari 2026.
Hasyimsyah menjelaskan bahwa pelaksanaan tanggap darurat bencana dilakukan Muhammadiyah melalui "One More One Respon". Artinya, semua aktivitas tanggap darurat dilakukan melalui satu pintu kebijakan, yaitu MDMC (Muhammadiyah Disaster Manager Center) dan LRB (Lembaga Relisiliansi Bencana).
Wakil Ketua MDMC PP Muhammadiyah, Indrayanto, menambahkan bahwa sejak tanggap bencana dilakukan, MDMC bersama semua komponen Muhammadiyah di tiga provinsi (Aceh, Sumut, dan Sumbar) telah hadir di 20 kabupaten dan kota dengan membuka 24 pos pelayanan.
Hendrayanto menyebutkan bahwa ada 14.318 jiwa korban yang ditangani. Untuk itu, MDMC menurunkan 655 relawan yang berasal dari relawan lokal ditambah relawan yang didatangkan dari beberapa regional di Jawa.
Indrayanto mengatakan, MDMC dalam pengelolaan tanggap bencana memberikan layanan berupa layanan kesehatan, penyediaan air bersih, logistik makanan, psikososial, pendidikan darurat sampai hunian darurat.
"Dalam pelayanan kesehatan, Muhammadiyah menghadirkan tenaga medis dari 14 rumah sakit Muhammadiyah dari seluruh Indonesia melalui 42 tim Emergency Medical Team (EMT) yang beroperasi diberbagai terdampak. Bersamaan penyerahan bantuan beras juga diberangkatkan bantuan LazisMU berupa paket Family Kids yang diperuntukkan bagi pelajar-pelajar yang terdampak di beberapa kawasan," katanya.
Ketua PW Muhammadiyah Aceh, Abdul Malik Musa, hadir saat penerimaan simbolis bantuan beras sebanyak 5 ton dari NGO UEA. Ia mengatakan, "bencana yang terjadi adalah tsunami darat, tsunami yang datang dari gunung. Berbeda dengan tsunami laut, tsunami darat daya hancurnya lebih dahsyat dan luas."
Ia menyampaikan apresiasi kepada PP Muhammadiyah yang telah membagi 5 ton beras untuk Aceh dan terima kasih kepada Muhammadiyah Sumatera Utara yang telah memberi bantuan tanggap darurat untuk Aceh Tamiang.
"Sesungguhnya kondisi Aceh masih sangat parah. Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah masih sangat terisolasi. Aceh masih membutuhkan banyak bantuan, khususnya membuka isolasi Aceh Tengah dan Bener Meriah," katanya.

