Jakarta – Kebiasaan menyimpan daging kurban dalam freezer agar bisa dinikmati berpekan-pekan memang dianggap praktis. Namun, Ahli Gizi Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret (UNS), Banun Ma’rifah Fathsidni, mengingatkan bahwa cara mengolah yang tidak tepat justru dapat memicu gangguan kesehatan.
Menurut Banun, kunci utama menjaga manfaat daging kurban terletak pada pemilihan bahan dan teknik memasak. Ia menyarankan masyarakat mengutamakan potongan daging yang minim lemak serta menyingkirkan jeroan dan gajih karena kandungan lemak jahatnya relatif tinggi.
Di tahap pengolahan, ia menilai metode memasak juga tidak kalah penting. Menggoreng sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan kalori, terutama jika penggunaan minyak dan santan terlalu banyak. Sebagai pilihan yang lebih aman, daging bisa direbus, dikukus, atau dipanggang.
Banun juga mengingatkan agar bumbu tidak dibebani natrium berlebihan. Penggunaan kecap manis, santan, dan penyedap rasa buatan secara berlebihan perlu dibatasi supaya tekanan darah tetap terjaga.
Selain soal bahan dan bumbu, kebiasaan memanaskan lauk daging berulang kali juga dinilai perlu dihentikan. Proses itu, kata dia, dapat menurunkan kualitas zat gizi, sekaligus membuat tekstur dan rasa masakan ikut berkurang.
Untuk menyeimbangkan konsumsi protein hewani, sayur dan buah tetap perlu hadir di meja makan. Asupan serat, vitamin, dan mineral dari bahan nabati dibutuhkan untuk membantu pencernaan serta menjaga keseimbangan nutrisi tubuh.

