Jakarta – Penjualan domestik PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mulai menunjukkan pemulihan yang lebih kuat, seiring upaya perusahaan mempercepat ekspansi produk dan menghidupkan kembali laju bisnis ekspor di sejumlah pasar utama.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim menyebut, perseroan kini gencar mendorong pertumbuhan luar negeri lewat inovasi produk. Menurut dia, langkah itu menjadi salah satu penopang strategi MYOR untuk memperluas pasar sekaligus menjaga daya saing di tengah kondisi global yang masih bergejolak.
Dalam risetnya yang terbit 27 Agustus 2026, Christy mencatat penjualan MYOR pada paruh pertama 2026 masih tumbuh moderat, yakni 0,7% secara tahunan. Perlambatan sempat terjadi pada kuartal I 2026 akibat terganggunya distribusi domestik, setelah ada pembatasan pengiriman truk pada 13-29 Maret 2026.
Situasi itu kemudian membaik setelah Lebaran. Persediaan distributor kembali normal pada April 2026 dan membantu pemulihan penjualan pada kuartal II 2026.
Memasuki kuartal III 2026, tren penjualan berbalik lebih positif. Pada Juli 2026, pertumbuhan sell in domestik melonjak lebih dari 15%, jauh di atas target internal perusahaan yang dipatok di atas 10%.
Christy menuturkan, di tengah ketidakpastian geopolitik, MYOR memang memangkas jumlah hari persediaan ekspor agar distributor memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengelola arus kas. Namun, manajemen tetap berkomitmen mengembangkan bisnis di luar negeri.
Filipina menjadi salah satu pasar andalan perusahaan, khususnya untuk produk campuran kopi dan minuman instan. MYOR juga menyiapkan satu hingga dua produk baru atau Stock Keeping Unit (SKU) pada awal 2027 untuk kembali menarik minat konsumen dan memperkuat persepsi nilai produknya.
Menurut Christy, peluang lain masih terbuka pada kategori produk instan yang mudah larut di Filipina dan negara lain. Ia juga melihat biskuit sebagai segmen menjanjikan, mengingat ukuran pasar biskuit dan kopi di ASEAN tergolong seimbang.
Di sisi biaya, margin kotor MYOR ikut terbantu oleh penurunan harga sejumlah bahan baku utama selama semester I 2026. Harga kopi turun 21%, kakao anjlok 37%, gula turun 16%, dan minyak kelapa terkoreksi 20% secara tahunan.
Dengan kondisi tersebut, manajemen MYOR tetap mempertahankan target pertumbuhan pendapatan sepanjang 2026 di kisaran 5%-8%. Perseroan juga menjaga proyeksi margin kotor pada level 24%-25%.
Berdasarkan penyesuaian asumsi pendapatan dan tren harga bahan baku yang lebih rendah, Christy mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MYOR. Ia menetapkan target harga Rp 2.500 per saham.


